
WEDA, Thewasesanews.com – Polsubsektor Weda Tengah tekan angka kriminalitas lingkar tambang dengan mengintensifkan razia gabungan serta pengetatan keamanan di sepanjang kawasan industri mulai dari Desa Kobe hingga Desa Gamaf, Kabupaten Halmahera Tengah, Rabu (29/7/2026). Langkah antisipatif tersebut ditempuh menyusul tingginya eskalasi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat, di mana jajaran kepolisian setempat harus menangani sedikitnya 10 hingga 20 kasus keributan dan kriminalitas dalam kurun waktu satu minggu.
​Tingginya angka kasus di wilayah lingkar industri pertambangan Weda Tengah tersebut dipicu oleh berbagai faktor sosial dan ekonomi, termasuk tingginya beban biaya hidup di area industri. Pola konflik harian yang berulang mencakup maraknya praktik perjudian, konsumsi minuman keras, perselisihan rumah tangga, hingga aksi adu jotos antarpemuda maupun pekerja tambang yang kerap berujung pada potensi bentrokan antarkelompok.

​Guna mencegah pecahnya konflik horizontal yang meluas dan berlanjut, Kapolsubsektor Weda Tengah, Ipda A. Rajak Jauhati, S.H., M.H., langsung mengambil langkah tegas melalui penegakan otoritas gabungan. Kepolisian menggelar operasi penyisiran dan penyitaan senjata tajam serta senjata rakitan langsung dari tangan warga maupun pekerja di area pemukiman kos-kosan dan tempat umum.


​”Tingginya dinamika di kawasan industri Weda Tengah memicu eskalasi kasus harian yang cukup signifikan. Oleh karena itu, kami mengambil langkah pencegahan cepat melalui razia senjata tajam dan pengetatan jalur masuk pasokan minuman keras yang kerap menjadi pemicu utama hilangnya kendali emosi para pemuda maupun pekerja,” tegas Kapolsubsektor Weda Tengah, Ipda A. Rajak Jauhati, S.H., M.H., di Weda, Rabu (29/7/2026).
Selain operasi fisik di lapangan, jajaran kepolisian memperketat jalur distribusi pasokan minuman keras tak berizin yang diselundupkan ke area pemukiman pekerja, tempat hiburan malam, hingga indekos di wilayah Lelilef dan sekitarnya. Pengawasan jalur logistik miras dipandang vital karena sebagian besar insiden penganiayaan dan perkelahian bermula dari pengaruh alkohol.

​
Pada ranah pencegahan sosial, Polsubsektor Weda Tengah merangkul jajaran ketua paguyuban suku, tokoh adat, serta pemuka agama setempat. Pelibatan tokoh masyarakat ini bertujuan untuk meredam potensi pergeseran perselisihan personal agar tidak tereskalasi menjadi isu SARA yang dapat merusak stabilitas daerah.
​”Kami terus berkoordinasi dengan para tokoh adat, ketua paguyuban, dan pemuka agama untuk memastikan setiap gesekan antarindividu dapat diselesaikan secara dingin, tanpa membawa sentimen kelompok atau SARA. Sinergi ini merupakan kunci utama dalam menjaga kondusivitas wilayah lingkar tambang,” tambah Ipda A. Rajak Jauhati.
Sumber: Polsubsektor Weda Tengah / Polsek Weda Tengah








