Loela Drakel Sang Maestro Pop Melankolis. - thewasesanews.com

Loela Drakel: Sang Maestro Pop Melankolis dari Timur, Lagunya Terjual Jutaan Kopi Kaset dan CD

​“Perjuangan musik ini berakar dari pengalaman hidup di daerah. Sepanjang perjalanan berkarya, saya selalu menjaga komitmen untuk menghadirkan karya yang jujur dari hati sekaligus membukakan jalan bagi generasi muda Indonesia Timur agar karya musik daerah kita terus hidup dan dihargai di panggung nasional,” ungkap Loela Drakel.

TERNATE, Thewasesanews.com — Loela Drakel Sang Maestro Pop Melankolis dari Indonesia Timur mengukuhkan rekam jejak panjangnya sebagai pahlawan seni yang berhasil menjual jutaan kopi kaset pita dan CD selama lebih dari empat dekade berkarya di panggung musik nasional pada Jumat (9/10/2026).

​Penyanyi dan musisi legendaris bernama asli Abdul Halil Drakel tersebut dikenal luas melalui lantunan vokal serak-serak basah yang sarat penghayatan mendalam.

​Karakter vokal yang khas dan meratap puitis menjadikan dirinya ikon musik nostalgia serta lagu daerah yang tak tergantikan di hati lintas generasi pendengar nusantara.

​Perjalanan hidup penyanyi kelahiran Kampung Facei (Fatcei), Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, pada 12 September 1958 ini berakar dari latar belakang keluarga sederhana yang penuh perjuangan.

​Loela Drakel merupakan putra dari pasangan Yusuf Drakel dan Sehat Bahanan, seorang ibu gigih yang akrab disapa Eya.

​Ujian kehidupan menghampiri masa kecilnya tatkala sang ayah wafat saat Loela baru menginjak usia dua tahun.

​Kondisi tersebut memaksa Eya berjuang sendirian membesarkan delapan anak melalui upah hasil menjahit pakaian.

​Tumbuh dalam keterbatasan ekonomi, menyantap hidangan sagu lokal (sinole), hingga bersekolah tanpa alas kaki membentuk karakter kepribadian Loela menjadi sosok tangguh.

​Pahit manis perjuangan masa lalu itulah yang di kemudian hari memberi “jiwa” dan kedalaman emosional pada setiap lirik lagu melankolis ciptaannya.

​Rintisan karier bermusik Loela dimulai pada dekade 1980-an dari panggung-panggung hajatan warga dan festival lagu lokal di Kota Ternate.

​Bakat besarnya menarik perhatian pengamat musik terkemuka nasional, Bens Leo, yang kemudian memboyongnya ke industri rekaman Jakarta di bawah naungan label Lolypop Records.

​Di ibu kota, Loela meluncurkan album perdana berbahasa Indonesia bertajuk Sampul Merah Muda yang langsung menyedot perhatian penikmat musik tanah air.

​Puncak popularitasnya membumbung tinggi tatkala seri album Anggur Merah (Seri 1 hingga 6) berhasil meledak di pasaran nasional.

​Karya-karyanya diputar secara masif di pelbagai sudut daerah, mulai dari angkutan kota, kedai kopi, hingga perhelatan pesta di pelosok nusantara.

​Meski berdarah asli Maluku Utara, Kota Manado dan Provinsi Sulawesi Utara telah menjadi rumah kedua yang tak terpisahkan dalam perjalanan musik Loela Drakel.

​Penguasaan dialek Melayu Manado yang fasih melahirkan deretan tembang hit legendaris seperti Ngana Pigi Kamari dan Langit Mar Manangis.

​Ia juga mencatatkan kolaborasi fenomenal bersama diva pop daerah Connie Mamahit yang diproduksi di bawah bendera DL Records, studio rekaman terkemuka di Manado.

​Di samping kesuksesan komersial, Loela Drakel dikenal sebagai figur senior yang berjiwa sosial tinggi serta konsisten membagikan ilmu kepada musisi muda.

​Ia aktif bertindak sebagai pemburu talenta (talent scouter) yang membimbing grup vokal daerah dari desa terpencil seperti The Twin Duo hingga menembus dapur rekaman.

​Penyanyi kondang Indonesia Timur, Ona Hetharua, menaruh hormat mendalam karena di awal kariernya diizinkan membawakan ulang lagu-lagu karya Loela secara gratis demi regenerasi musik daerah.

​“Perjuangan musik ini berakar dari pengalaman hidup di daerah. Sepanjang perjalanan berkarya, saya selalu menjaga komitmen untuk menghadirkan karya yang jujur dari hati sekaligus membukakan jalan bagi generasi muda Indonesia Timur agar karya musik daerah kita terus hidup dan dihargai di panggung nasional,” ungkap Loela Drakel.

Di balik gemerlap panggung hiburan, Loela memegang teguh prinsip untuk memisahkan urusan karier profesional dengan kehidupan domestiknya (private life).

​Identitas sang istri dan anak-anaknya dijaga secara ketat dari sorotan media massa demi memberikan ketenangan serta privasi penuh bagi keluarga tercinta.

​Memasuki periode 2025–2026, Loela Drakel membuktikan statusnya sebagai legenda hidup yang tetap produktif dan tak lekang oleh waktu di era digital.

​Pada Maret 2026, ia merilis ulang mahakaryanya Sepenggal Cinta Yang Hilang dengan aransemen pop modern di pelbagai platform streaming musik digital.

​Langkah tersebut disusul dengan peluncuran single digital baru seperti Indahnya Malam Ini, Selalu Mengalah, serta Lama Berpisah.

​Dedikasinya terhadap ekosistem musik ditunjukkan saat hadir sebagai bintang tamu eksklusif dalam Podcast Torang Punya oleh RRI Manado pada September 2025 guna mengedukasi masyarakat mengenai hak royalti musisi daerah.

​Sebagai bentuk penghormatan seumur hidup (lifetime achievement), komunitas seni menggelar konser kebudayaan akbar bertajuk Tribute to Loela Drakel di Dhuafa Center Kota Ternate pada September 2026.

​Konser kehormatan tersebut makin menegaskan posisi Abdul Halil Drakel sebagai pahlawan seni dan maestro musik melankolis kebanggaan Maluku Utara dan Indonesia Timur.

Narasumber: Abdul Halil Drakel (Loela Drakel / Musisi Legendaris Indonesia Timur).

Logo The Wasesa News
Tomi Umarama

Leave a Reply

error: Content is protected !!