
JAKARTA, thewasesanews.com — Hari Kesaktian Pancasila 2026 FSPPI diperingati secara khidmat dan penuh gelora semangat kebangsaan oleh jajaran pengurus serta pekerja kreatif perfilman nasional di bawah naungan Federasi Serikat Pekerja Perfilman Indonesia (FSPPI) di Jakarta pada Kamis (1/10/2026).
Ketua Umum FSPPI, Dr. Rizal Djibran, secara tegas mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya para pekerja seni dan insan perfilman Tanah Air, untuk menjadikan Pancasila sebagai benteng ideologi sekaligus sumber kekuatan utama dalam menjaga kedaulatan NKRI.
Momentum bersejarah 1 Oktober 2026 ini dijadikan pilar penguat komitmen kolektif dalam merawat nilai-nilai luhur Pancasila di tengah arus globalisasi dan disrupsi digital yang kian kompleks.
Dr. Rizal Djibran menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar susunan teks historis yang dihafal dalam seremoni kenegaraan, melainkan roh perjuangan yang menyatu dalam setiap napas kehidupan masyarakat Indonesia.
Pihaknya menilai bahwa kesaktian Pancasila telah teruji secara nyata dalam mengarungi berbagai gelombang dinamika sejarah, ancaman ideologi radikal, serta potensi disintegrasi bangsa dari waktu ke waktu.
“Pancasila tidak hanya sakti karena sejarahnya, tetapi sakti karena selalu hidup dalam hati dan perjuangan rakyat Indonesia. Dengan semangat Kesaktian Pancasila, marilah kita terus bersatu, berkarya, dan menjaga Indonesia agar tetap kuat, berdaulat, adil, dan sejahtera,” tegas Ketua Umum FSPPI, Dr. Rizal Djibran.
Dalam pesan kebangsaannya yang bergelora, pimpinan FSPPI tersebut menjabarkan empat pilar utama dalam menjaga Pancasila sebagai fondasi ketahanan bangsa dan kemajuan industri kreatif.
Pilar pertama adalah memperkuat persatuan nasional dengan merobohkan sekat-sekat perbedaan demi mengutamakan kepentingan berbangsa dan bernegara di atas kepentingan pribadi atau kelompok.
Pilar kedua menitikberatkan pada pentingnya menjaga keadilan sosial, termasuk pemenuhan hak-hak perlindungan, kesejahteraan, serta kepastian hukum bagi para pekerja di sektor industri kreatif dan perfilman nasional.
Pilar ketiga adalah merawat kebhinekaan sebagai kekayaan budaya Nusantara yang wajib dicerminkan secara arif dalam karya-karya seni audio visual bercita rasa nasionalisme tinggi.
Adapun pilar keempat berfokus pada dorongan kemajuan Indonesia melalui karya seni sinematik yang mencerahkan, inovatif, serta berdaya saing tinggi di tingkat internasional.
Rizal Djibran menggarisbawahi bahwa dunia perfilman memiliki peran yang sangat strategis dalam melangsungkan edukasi karakter bangsa melalui narasi-narasi layar lebar yang berjiwa Pancasila.
Para pekerja perfilman, mulai dari sutradara, penulis skenario, aktor, hingga seluruh kru teknis di balik layar, diposisikan sebagai garda terdepan pelestari identitas kebudayaan nasional.
Seni film dinilai sebagai media audio visual yang sangat efektif untuk mentransfer nilai-nilai gotong royong, toleransi, keberanian, serta keadilan kepada generasi muda Nusantara.
FSPPI berkomitmen untuk terus membela dan mengawal kesejahteraan para pekerja film seraya mendorong lahirnya karya-karya yang mengedukasi, menginspirasi, serta memperkokoh rasa cinta Tanah Air.
Di akhir pesannya, Dr. Rizal Djibran membakar semangat seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak pernah lelah mencintai, membela, dan memajukan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Persatuan yang kokoh dan keadilan yang merata diyakini menjadi kunci utama membawa bangsa Indonesia melompat menuju peradaban maju, mandiri, dan berdaulat penuh di panggung dunia.
Narasumber: Dr. Rizal Djibran (Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Perfilman Indonesia – FSPPI).








