Rully Chairul Azwar Bahas Solusi Sampah Nasional. - thewasesanews.com

Rully Chairul Azwar Bahas Solusi Sampah Nasional, Teknologi Termal hingga RDF Dibidik Jadi Peluang Bisnis Daerah

​“Pengembangan bisnis pengolahan sampah memang menawarkan peluang investasi yang sangat menarik bagi daerah, namun keberhasilannya tidak boleh hanya diukur dari kecanggihan mesin atau tingginya suhu pembakaran. Indikator utamanya adalah berapa banyak tonase sampah yang benar-benar terolah, seberapa besar reduksi residu ke TPA, kelayakan biaya operasional per ton, serta kepastian pasar bagi produk turunannya seperti RDF. Jika teknologi termal dan pemanfaatan energi terbukti layak secara teknis dan ekonomis melalui pengujian independen, skema ini siap menjadi solusi konkret lingkungan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegas Rully Chairul Azwar.

TANGERANG, Thewasesanews.com — Rully Chairul Azwar Bahas Solusi Sampah Nasional bersama jajaran lintas sektor guna mendobrak krisis pengelolaan sampah perkotaan dengan membidik teknologi termal serta konversi Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai peluang usaha produktif bagi daerah di Tangerang, Banten, pada Rabu (14/10/2026).

​Diskusi strategis penataan lingkungan dan investasi daerah tersebut turut menghadirkan jajaran tokoh lintas disiplin, melingkupi Kemal Pasya, Prof. Dr. Indira Santi Kertabudi, serta Panca Dwikora Aba Soekarno.

​Pertemuan lintas figur ini mengintegrasikan sudut pandang politik, dunia usaha, akademisi kelembagaan, serta media massa dalam merumuskan skema pengolahan sampah yang tidak hanya menyelesaikan masalah ekologi, tetapi juga bernilai ekonomi tinggi.

​Dalam pembahasan teknis, ditegaskan bahwa karakteristik sampah di setiap wilayah Indonesia memiliki perbedaan signifikan, khususnya antara sampah basah organik dan sampah kering anorganik.

​Oleh karena itu, penetapan kapasitas fasilitas pengolahan sampah di tingkat kabupaten dan kota diwajibkan berbasis pada riset komprehensif, mencakup survei timbulan harian, analisis komposisi, kebutuhan layanan, serta jaminan ketersediaan pasokan pasokan harian.

​Pemerintah daerah diimbau tidak sekadar tergiur oleh kecanggihan mesin, melainkan wajib memastikan kesiapan lahan, aksesibilitas jalan angkut, jaringan energi pendukung, kesiapan operator terlatih, hingga mekanisme pengawasan lingkungan yang independen.

​Perencanaan yang matang tersebut krusial agar fasilitas mesin pengolah sampah dapat beroperasi secara optimum, terhindar dari defisit bahan baku, serta tidak menerima pasokan sampah yang melenceng dari spesifikasi teknis alat.

​Penerapan teknologi pengolahan sampah di daerah dinilai harus dimulai dengan peta kebutuhan riil lapangan, mengingat kota besar menghadapi kompleksitas logistik sementara daerah terpencil terkendala jarak dan infrastruktur.

​Formulasi penerapan teknologi pengolahan sampah daerah disarankan melalui enam tahapan terukur, diawali dengan pengukuran volume dan komposisi sampah harian yang akurat.

​Langkah dilanjutkan dengan komparasi teknologi berdasarkan kemampuan olah, keselamatan kerja, ambang batas emisi, perhitungan total investasi operasional per ton, hingga jaminan pembeli (off-taker) produk RDF.

​Pemerintah daerah juga dituntut melengkapi izin lingkungan, kajian ilmiah independen, serta menggelar uji coba terukur (pilot project) sebelum mengekspansi skala fasilitas ke wilayah yang lebih luas.

​“Pengembangan bisnis pengolahan sampah memang menawarkan peluang investasi yang sangat menarik bagi daerah, namun keberhasilannya tidak boleh hanya diukur dari kecanggihan mesin atau tingginya suhu pembakaran. Indikator utamanya adalah berapa banyak tonase sampah yang benar-benar terolah, seberapa besar reduksi residu ke TPA, kelayakan biaya operasional per ton, serta kepastian pasar bagi produk turunannya seperti RDF. Jika teknologi termal dan pemanfaatan energi terbukti layak secara teknis dan ekonomis melalui pengujian independen, skema ini siap menjadi solusi konkret lingkungan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tegas Rully Chairul Azwar.

Sinergi antara pemerintah sebagai regulator dan penyedia layanan publik, dunia usaha sebagai pemodal dan operator fasilitas, serta media sebagai pengawal transparansi menjadi kunci keberhasilan transformasi pengolahan sampah nasional.

​Meskipun peluang usaha pengolahan sampah cukup menjanjikan, setiap penetapan kerja sama, penetapan lokasi, hingga skema investasi daerah wajib melalui mekanisme studi kelayakan dan konfirmasi kepatuhan hukum yang ketat.

​Keberhasilan penataan sampah berbasis industri ini diharapkan mampu mengubah beban biaya pengelolaan sampah daerah menjadi sektor usaha produktif yang mendukung terwujudnya tata lingkungan yang bersih dan berkelanjutan.


Sumber: Risalah Diskusi Strategis Peluang Bisnis Pengolahan Sampah Nasional dan Implementasi Teknologi Termal/RDF di Tangerang (14 Oktober 2026).

Logo The Wasesa News
Catur Nurmansyah

Leave a Reply

error: Content is protected !!