
JAKARTA, thewasesanews.com — Penutupan Program Pemantapan Nilai-nilai Kebangsaan atau PPNK Angkatan 73 Lemhannas RI yang diselenggarakan oleh Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia resmi dilaksanakan di Markas Komando (Mako) Korps Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, pada Selasa (18/8/2026), setelah berlangsung sejak dibuka pada 10 Agustus 2026 di Gedung Lemhannas RI, Jakarta. Kegiatan strategis yang mengusung tema “Membangun Kemandirian Bangsa Melalui Asta Cita, Guna Mewujudkan Indonesia Emas 2045” ini diikuti oleh 100 peserta lintas sektor yang terdiri dari kalangan birokrat, akademisi, tokoh masyarakat, organisasi profesi, hingga perwira TNI dan Polri. Upacara penutupan dipimpin langsung oleh Gubernur Lemhannas RI, Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., dan ditandai dengan penanggalan tanda peserta serta penyematan PIN Lemhannas RI secara simbolis kepada perwakilan alumni sebagai bentuk pengukuhan komitmen kebangsaan.
​Dalam amanat resminya saat memimpin upacara penutupan di Mako Brimob Kelapa Dua, Gubernur Lemhannas RI Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si., menggarisbawahi bahwa penutupan PPNK Angkatan 73 ini bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari pengabdian nyata di tengah masyarakat. Beliau menyampaikan bahwa dinamika geopolitik global dan tantangan ketahanan nasional saat ini bergerak sangat cepat serta makin kompleks, sehingga membutuhkan sosok-sosok pemimpin yang memiliki fondasi kebangsaan yang kokoh. Menurutnya, seluruh alumni PPNK Angkatan 73 dituntut untuk mampu berdiri di garda terdepan sebagai teladan, agen perubahan, serta penggerak kemandirian bangsa di sektor profesi dan pengabdian masing-masing.

​Gubernur Ace Hasan Syadzily menegaskan pentingnya mentransformasikan seluruh materi pemantapan nilai-nilai kebangsaan menjadi aksi konkrit di lapangan. Lemhannas RI menaruh harapan besar agar para peserta tidak sekadar menyerap pengetahuan teoritis selama pelatihan, tetapi juga aktif membangun inisiatif lokal yang memperkuat ketahanan komunitas di daerahnya masing-masing. Pemahaman yang benar tentang wawasan nusantara, ketahanan nasional, serta pemanduan visi Asta Cita harus terus disebarluaskan secara masif untuk membendung arus individualisme, polarisasi sosial, dan ancaman disintegrasi. Langkah ini dinilai sangat vital guna membentengi kedaulatan bangsa serta memastikan roadmap menuju Indonesia Emas 2045 berjalan di atas pijakan nilai-nilai luhur Pancasila.
​Sementara itu, dalam sebuah kesempatan diskusi santai bersama awak media pada Selasa (25/8/2026), salah satu peserta PPNK angkatan 73 Lemhannas RI, Megy Aidillova, ST, membagikan kesan mendalam serta pengalaman berharga yang didapatkannya selama mengikuti seluruh rangkaian agenda pemantapan tersebut. Tokoh muda asal Nagari Kapau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat ini mengungkapkan rasa syukur yang mendalam karena telah menyelesaikan program pendidikan kebangsaan tingkat nasional ini dengan predikat sangat baik. Mewakili unsur Organisasi Garda Muda Merah Putih (GMMP) serta sebagai alumni Resimen Mahasiswa (Menwa), Megy menilai bahwa Angkatan 73 memiliki keistimewaan tersendiri dibanding angkatan-angkatan lainnya.
​Megy Aidillova menjelaskan bahwa keistimewaan utama PPNK Angkatan 73 terletak pada momentum pelaksanaannya yang berbarengan langsung dengan puncak Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Para peserta mendapatkan kesempatan langka dan sangat berkesan untuk melaksanakan Upacara Bendera HUT RI ke-81 secara khidmat bersama jajaran Pimpinan, Pejabat Utama, serta Instruktur Lemhannas RI. Suasana kebangsaan yang menyelimuti prosesi upacara peringatan kemerdekaan di lembaga kajian strategis tertinggi negara tersebut memberikan getaran emosional dan pencerahan batin yang sangat kuat bagi seluruh peserta.

​”Alhamdulillah, kami telah selesai melaksanakan PPNK Angkatan 73 dengan baik. PPNK Angkatan 73 ini sangat spesial, karena berbarengan dengan peringatan puncak HUT RI ke 81, dan kami memperingati dengan Upacara bersama Pimpinan Lemhannas RI dan Jajaran. Suatu suasana yang langka dari biasanya. Kami begitu banyak berdiskusi baik dengan narasumber, panelis, pimpinan, maupun instruktur di Lemhannas RI, serta antar kelompok untuk berbagi pengalaman dan memperkaya wawasan mengenai berbagai aspek yang menentukan masa depan bangsa,” tutur Megy Aidillova, ST, Selasa (25/8/2026).
Lebih lanjut, Putra Minang ini memaparkan secara komprehensif dinamika pembelajaran yang dialami para peserta selama berada di kawah candradimuka Lemhannas RI. Selama lebih dari sepekan intensif, para peserta dibekali dengan berbagai materi strategis yang mencakup penataan dan antisipasi perubahan geopolitik global, penguatan sistem ketahanan nasional yang komprehensif, strategi pemberdayaan sumber daya manusia unggul, hingga pemantapan etika dan integritas moral dalam penyelenggaraan negara. Seluruh ruang diskusi, kajian panel, dan simulasi kebijakan dirancang secara interaktif guna membedah problematika bangsa dari berbagai sudut pandang disiplin ilmu dan latar belakang profesi.
​Di samping pendalaman materi konseptual di ruang kelas, Megy Aidillova mengungkapkan bahwa bagian paling berkesan dan menyentuh sisi emosional peserta terjadi saat pelaksanaan kegiatan luar ruangan (outbound) dan tradisi api unggun yang dipusatkan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok. Di tempat penggemblengan fisik dan mental tersebut, sekat-sekat antar-latar belakang profesi, jabatan, dan daerah asal melebur menjadi satu solidaritas yang kokoh. Rangkaian dinamika kelompok dan malam api unggun berhasil membakar semangat jiwa korsa, membangun rasa saling percaya, serta memperkuat soliditas tim dalam kerangka menjunjung tinggi persatuan nasional.
​Menyinggung mengenai esensi utama dari keikutsertaan mereka dalam PPNK Angkatan 73, Megy Aidillova menekankan bahwa hal paling krusial usai pelatihan ini adalah bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai kebangsaan yang bersumber dari Empat Konsensus Dasar Bangsa—yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika. Menurutnya, keempat pilar konsensus tersebut merupakan kompas moral dan ideologis yang harus melandasi eksekusi delapan misi utama pembangunan atau Asta Cita demi mewujudkan kemandirian bangsa Indonesia di segala bidang.
​Megy berharap agar seluruh pengetahuan, wawasan strategis, dan kepekaan kebangsaan yang diperoleh selama mengikuti PPNK Angkatan 73 dapat diaplikasikan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari. Minimal, para alumni dapat menjadi ragi pembaru dan membawa dampak positif di lingkungan organisasi, instansi, maupun wilayah tempat mereka mendedikasikan pengabdian. Bagi Megy yang juga aktif dalam gerakan kepemudaan dan alumni Menwa, komitmen pengabdian kepada bangsa dan negara tidak boleh luntur oleh perubahan zaman, melainkan harus terus diperbarui melalui pemikiran kritis dan karya nyata.
​Pada penutupan program tersebut, seluruh peserta PPNK Angkatan 73 yang berjumlah 100 orang dan dinyatakan lulus memenuhi syarat berhak menerima Sertifikat Pemantapan Nilai-nilai Kebangsaan yang ditandatangani secara resmi oleh Gubernur Lemhannas RI. Selain sertifikat, para peserta juga dianugerahi PIN Lemhannas RI sebagai simbol kehormatan dan kebanggaan almamater. Pemasangan PIN ini ditandai secara puncaknya melalui penyematan simbolis oleh Gubernur Lemhannas RI Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily kepada perwakilan peserta. Dengan selesainya program ini, ke-100 alumni PPNK Angkatan 73 secara resmi akan terwadahi dan bergabung dalam keluarga besar Ikatan Keluarga Alumni Pemantapan Nilai Kebangsaan (IKABNAS) serta Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas RI (IKAL Lemhannas RI).
​Keberadaan alumni PPNK Angkatan 73 di dalam wadah IKABNAS dan IKAL Lemhannas RI diharapkan dapat memperkuat jejaring kebangsaan yang solid di seluruh penjuru tanah air. Kolaborasi strategis antar-alumni yang tersebar di birokrasi, institusi TNI/Polri, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, dan sektor swasta dipandang sebagai aset berharga bangsa dalam mengawal stabilitas nasional. Lemhannas RI secara berkelanjutan membuktikan peran vitalnya sebagai lembaga pemerintah non-kementerian yang konsisten mencetak kader-kader pemimpin bangsa berkarakter kepemimpinan strategis, berwawasan luas, dan berkomitmen teguh pada keutuhan NKRI demi menyongsong fajar Indonesia Emas 2045.
Sumber: Lemhannas RI, Wawancara Khusus








