
BANGKOK, thewasesanews.com — Biksu Senior Thailand Phra Wachirayan Wi Ditangkap oleh tim penyidik dari Biro Penyelidikan Pusat (Central Investigation Bureau/CIB) atas tuduhan penggelapan dana kuil dan pencucian uang sebesar 91,8 juta baht atau lebih dari US$2,8 juta (setara Rp46 miliar) pada Kamis (10/9/2026). Penangkapan terhadap mantan kepala biara Wat Phutthaisawan yang berusia 66 tahun tersebut mengejutkan publik internasional, menyusul penyitaan aset mewah bernilai ratusan juta baht serta beredarnya rekaman video tak senonoh yang memperlihatkan dirinya bersama seorang wanita di area kediaman kuil.
Tindakan hukum tegas terhadap pria yang juga dikenal dengan nama Luang Pho Atichot ini bermula dari laporan rahasia masyarakat yang diterima aparat kepolisian pada pertengahan Juli 2026. Laporan tersebut mengungkap dugaan praktik penyalahgunaan dana donasi dan tindakan yang melanggar norma etika di lingkungan kuil bersejarah abad ke-14 yang terletak di ibu kota kuno Ayutthaya. Menindaklanjuti laporan masyarakat tersebut, Divisi Penindakan Kejahatan Kepolisian Thailand menggelar penyelidikan tertutup selama dua bulan hingga akhirnya berhasil mengidentifikasi dua alur utama penyelewengan keuangan yang dikelola langsung oleh tersangka.
Hasil penyidikan polisi menemukan bahwa alur penerimaan pertama merupakan dana sumbangan renovasi kuil senilai 89 juta baht atau sekitar Rp43,7 miliar yang dikumpulkan dari para penganut agama Buddha dan donatur berpengaruh. Sementara alur kedua berasal dari pembayaran jimat serta berbagai benda sakral buatan kuil dengan total nilai transaksi mencapai 2,8 juta baht atau setara Rp1,3 miliar. Meskipun kedua alur transaksi tersebut menggunakan penerbitan kuitansi resmi berlogo kuil, seluruh dana tunai yang terkumpul dipindahkan secara sengaja oleh tersangka ke akun pribadi dan pihak ketiga tanpa pencatatan.
Dalam konferensi pers di Bangkok pada Jumat (11/9/2026), Komandan Divisi Penindakan Kejahatan Kepolisian Thailand, Pattanasak Bupphasuwan, membeberkan secara rinci penyelewengan anggaran tersebut di hadapan puluhan jurnalis. Penyidik mengonfirmasi bahwa tata kelola keuangan di kuil kerajaan tersebut telah dimanipulasi secara penuh oleh tersangka demi keuntungan pribadi selama bertahun-tahun tanpa melalui proses audit internal maupun pemeriksaan akuntansi yang independen.
“Uang dari kedua alur penerimaan donasi tersebut tidak pernah masuk ke rekening resmi kuil sama sekali. Tidak satu Baht pun yang tercatat masuk ke rekening kas lembaga,” tegas Komandan Divisi Penindakan Kejahatan Kepolisian Thailand, Pattanasak Bupphasuwan.
Dalam operasi penindakan hukum tersebut, kepolisian juga membekuk seorang wanita berusia 47 tahun yang diidentifikasi sebagai rekan kejahatan tersangka. Wanita tersebut ditetapkan sebagai tersangka atas tuduhan berperan aktif membantu menyamarkan alur transaksi perbankan, mengonversi dana donasi ke dalam bentuk barang berharga, serta menyembunyikan kekayaan hasil tindak pidana penggelapan dari pemeriksaan petugas. Penyidik menduga kerja sama penyelewengan dana antara keduanya telah berlangsung cukup lama dan melibatkan penempatan aset di berbagai wilayah.
Skandal keuangan ini kian memicu kemarahan luas masyarakat setelah media nasional Thailand memublikasikan potongan rekaman kamera pengawas (CCTV) yang bocor ke publik. Rekaman tersebut memperlihatkan Phra Wachirayan Wi sedang melakukan tindakan intim bersama wanita 47 tahun tersebut di atas meja kerja kediamannya. Pelanggaran moral ini dinilai amat mencoreng kesucian institusi keagamaan mengingat seorang biksu Buddha terikat secara ketat oleh keharusan menjaga sumpah selibat serta menanggalkan pemikiran maupun kepemilikan duniawi.
Melalui penggeledahan di lokasi kuil dan kediaman terkait, polisi berhasil menyita aset kekayaan dengan total nilai mencapai 215 juta baht atau setara Rp99,8 miliar. Aset berharga yang diamankan sebagai barang bukti meliputi 16 kilogram emas batangan, jajaran perhiasan mewah, koleksi jam tangan bernilai tinggi, serta 28 lembar sertifikat kepemilikan tanah. Polisi kini tengah menerjunkan tim audit forensik untuk melakukan verifikasi mendalam guna memisahkan mana aset milik pribadi tersangka dan mana barang yang seharusnya menjadi milik Kuil Wat Phutthaisawan.
Sesaat setelah penangkapan dilakukan pada Kamis malam, otoritas sangha dan kepolisian setempat langsung melucuti jubah serta status kebiksuan Phra Wachirayan Wi secara resmi (defrocked). Pencopotan status keagamaan ini dilakukan agar proses penuntutan hukum atas dakwaan tindak pidana penggelapan jabatan dan pencucian uang dapat difokuskan melalui jalur peradilan pidana umum tanpa menyandang simbol keagamaan.
Wat Phutthaisawan sendiri merupakan salah satu kuil kerajaan paling bersejarah dan terkemuka di Thailand yang memiliki basis pengikut sangat luas. Kuil kuno ini kerap dikunjungi oleh berbagai kalangan masyarakat, mulai dari warga lokal, pejabat tinggi pemerintah, pengusaha papan atas, hingga jajaran perwira militer dan kepolisian. Sosok Phra Wachirayan Wi sebelumnya sangat disegani sebagai pembuat jimat sakral yang banyak dicari, bahkan Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul dilaporkan termasuk di antara jajaran tokoh nasional yang mengoleksi dan mengenakan jimat hasil buatannya.
Penangkapan sosok pemuka agama terkemuka ini menambah panjang daftar skandal keuangan dan penyalahgunaan wewenang yang mengguncang dunia keagamaan di Thailand dalam beberapa tahun terakhir. Peristiwa ini tidak hanya menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial, tetapi juga menjadikan kompleks Kuil Wat Phutthaisawan sebagai pusat perhatian publik. Gelombang desakan dari masyarakat kini menguat agar pemerintah dan Dewan Sangha Tertinggi segera melakukan reformasi menyeluruh terhadap sistem transparansi pengelolaan keuangan kuil di seluruh wilayah Thailand.
Sebagai langkah kelanjutan dan perkembangan terbaru dari penyidikan kasus ini, Komisioner Biro Penyelidikan Pusat (CIB) Thailand, Nattasak Chaowanasai, menyatakan bahwa kepolisian tidak akan berhenti pada dua tersangka saja. Jajarannya berkomitmen untuk menelusuri secara tuntas jaringan aliran dana kejahatan ini, memeriksa kemungkinan adanya keterlibatan pihak luar lainnya, serta memastikan seluruh barang bukti dapat diproses secara transparan demi memulihkan kembali kepercayaan dan penghormatan publik terhadap ajaran serta institusi keagamaan Buddha.
Sumber: Central Investigation Bureau (CIB) Thailand / Bangkok Post / Reuters / AFP








