
TANGERANG, thewasesanews.com — Lebih dari 4.700 pekerja pertamina hulu indonesia jaga produksi migas nasional selama 24 jam nonstop di tengah suasana Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, demi memastikan ketersediaan pasokan minyak dan gas bumi nasional tetap aman, stabil, dan tidak terputus pada Kamis (20/8/2026). Langkah berdedikasi tinggi yang ditempuh oleh para perwira PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) beserta anak perusahaan dan jajaran afiliasinya ini menjadi wujud nyata pemaknaan kemerdekaan melalui kontribusi kerja nyata di lapangan hulu migas, di mana semangat pengabdian dilaksanakan bukan sekadar melalui prosesi upacara seremonial melainkan lewat pengawalan operasi eksplorasi dan eksploitasi energi yang berkesinambungan bagi kemajuan ekonomi bangsa.
​Momentum peringatan hari kemerdekaan bangsa tahun ini dimanfaatkan secara khidmat oleh seluruh insan PHI yang tersebar di berbagai instalasi vital regional. Upacara bendera peringatan HUT ke-81 RI digelar secara serentak pada Senin lalu di fasilitas-fasilitas operasi hulu migas, baik di area lepas pantai (offshore) maupun darat (onshore), yang mencakup wilayah kerja Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, hingga kantor pusat di Jakarta. Di tengah deru mesin fasilitas produksi energi yang tidak pernah berhenti berputar sepanjang hari, para pekerja tetap mengibarkan Sang Saka Merah Putih dengan penuh kebanggaan sembari memikul tanggung jawab besar menjaga kelancaran alur energi bagi kebutuhan industri, transportasi, dan rumah tangga di seluruh pelosok Tanah Air.
​Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia, Muharram Jaya Panguriseng, menegaskan bahwa momentum peringatan kemerdekaan Indonesia merupakan ajang yang sangat krusial untuk semakin memperkokoh rasa cinta tanah air serta kebanggaan nasional sebagai bagian tak terpisahkan dari bangsa Indonesia. Menurutnya, medan perjuangan para pekerja migas saat ini diwujudkan melalui ketahanan dan keandalan operasional di lapangan-lapangan minyak dan gas bumi yang tersebar di pulau Kalimantan. Pengorbanan waktu dan tenaga yang diberikan para pekerja di tengah risiko tinggi industri hulu migas menjadi bukti konkret bahwa kedaulatan energi nasional berada di tangan para insan yang bekerja tanpa kenal lelah, baik siang maupun malam hari.
​Lebih lanjut, Muharram menjelaskan bahwa dinamika dan tantangan dalam industri hulu minyak dan gas bumi dari waktu ke waktu terus mengalami perkembangan yang sangat kompleks, baik dari sisi teknis operasional di lapangan maupun tantangan lanskap bisnis global. Kondisi sumur-sumur migas yang beranjak matang (mature fields) memerlukan penerapan teknologi canggih, efisiensi operasional yang ketat, serta strategi investasi yang agresif namun terukur guna menahan laju penurunan produksi alami (natural decline). Oleh sebab itu, PHI terus memperkuat komitmen investasi secara berkelanjutan guna memastikan kesinambungan produksi migas sekaligus menjadi benteng utama dalam menopang target ketahanan energi yang dicanangkan oleh pemerintah pusat.
​Komitmen investasi dan pengelolaan operasi yang konsisten tersebut ditujukan agar setiap barel minyak mentah serta setiap kaki kubik gas bumi yang berhasil diproduksikan dari perut bumi Kalimantan mampu memberikan nilai tambah yang maksimal bagi negara. PHI memastikan bahwa hasil produksi tersebut tidak hanya berdampak pada pencapaian angka-angka finansial perusahaan, tetapi juga menghasilkan dampak berganda (multiplier effect) yang nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah, pembukaan lapangan kerja, pemberdayaan UMKM lokal, serta peningkatan penerimaan negara dan daerah melalui bagi hasil migas dan pajak.
​Salah satu potret paling berkesan dari semangat nasionalisme pekerja hulu migas terlihat dalam pelaksanaan upacara bendera di atas anjungan lepas pantai PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) di Lapangan Bekapai. Sebanyak 90 pekerja yang berasal dari berbagai lintas fungsi operasional—meliputi fungsi Production (PO), Project (PRJ), Health, Safety, Security and Environment (HSSE), hingga Support Marine & Logistic (SUP)—turut serta membaur dan mengambil peran langsung sebagai petugas maupun peserta upacara. Meskipun dilaksanakan di atas fasilitas operasional bernilai tinggi dengan tingkat risiko keselamatan yang jauh lebih kompleks dibandingkan kegiatan di darat, seluruh prosesi pengibaran bendera berjalan dengan sangat khidmat, tertib, dan tetap menjunjung tinggi protokol keselamatan kerja yang ketat.
​Manager Communication Relations & CID PHI, Dony Indrawan, menyampaikan bahwa partisipasi aktif para pekerja dalam peringatan hari kemerdekaan di tengah fasilitas operasi mencerminkan tingginya tingkat kesadaran kolektif bahwa pengabdian terbaik kepada negara dapat diwujudkan secara konkret melalui dedikasi pada pekerjaan sehari-hari. Menurut Dony, semangat nasionalisme yang membara di tempat kerja ini berjalan beriringan dengan kinerja operasional yang solid dari PHI beserta anak perusahaan dan afiliasinya dalam menuntaskan target-target produksi energi yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan pemegang saham.
​Berdasarkan catatan kinerja operasional sepanjang Semester I tahun 2026, PT Pertamina Hulu Indonesia berhasil menunjukkan performa produksi yang sangat impresif dan melampaui target yang ditetapkan. PHI membukukan realisasi produksi minyak bumi sebesar 59,3 ribu barel per hari (MBOPD), yang setara dengan 116,1 persen dari target perusahaan untuk tahun 2026. Sementara itu, untuk pencapaian produksi gas bumi, PHI berhasil mencatatkan angka sebesar 621 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD), atau mencapai 105,4 persen dari target tahunan yang direncanakan. Pencapaian melampaui target ini menjadi bukti nyata bahwa semangat kerja keras insan PHI mampu memberikan sumbangsih signifikan terhadap lifting migas nasional.
​Selain berhasil melampaui target produksi, PHI juga menempatkan keselamatan kerja sebagai prioritas paling utama dalam seluruh lini kegiatannya (safety first). Hingga akhir Semester I tahun 2026, PHI berhasil mempertahankan rekor jam kerja selamat yang luar biasa, yakni mencapai 73,1 juta jam kerja selamat tanpa adanya insiden kecelakaan kerja yang fatal atau Number of Accident (NoA) nol. Pencapaian ini diperkuat dengan raihan Total Recordable Incident Rate (TRIR) yang sangat rendah, yaitu sebesar 0,03. Angka ini mencerminkan tingginya budaya keselamatan (safety culture) dan kepatuhan seluruh pekerja terhadap standar operasional prosedur di seluruh lingkungan kerja PHI.
​Bagi manajemen PHI, keberlanjutan operasional dan peningkatan produksi migas bukanlah sekadar pencapaian performa bisnis internal semata. Wilayah operasi PHI di pulau Kalimantan memegang peranan yang amat strategis dalam menopang pasokan energi nasional, memasok bahan baku industri vital seperti pupuk dan petrokimia, serta menjadi penggerak utama denyut nadi perekonomian regional di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan. Oleh karena itu, konsistensi dalam menjaga kelancaran aliran energi menjadi kunci utama dalam menjamin stabilitas pasokan energi bagi seluruh rakyat Indonesia.
​Dony Indrawan menegaskan bahwa seluruh pekerja PHI menyadari betul betapa pentingnya peran mereka dalam menjaga kesinambungan operasi hulu migas tanpa pernah mengompromikan aspek keselamatan kerja. Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi momentum pengingat yang sangat kuat bahwa mengisi kemerdekaan bangsa dapat diwujudkan melalui kerja keras di sektor-sektor strategis, salah satunya dengan memastikan bahwa energi fosil maupun transisi energi tetap tersedia secara andal untuk mendukung roda pembangunan nasional.
​Sebagai bagian integral dari Subholding Upstream Pertamina, PT Pertamina Hulu Indonesia dipercaya mengelola kegiatan operasi dan bisnis hulu migas di Regional 3 Kalimantan, yang membawahi tiga wilayah kerja utama yaitu Zona 8, Zona 9, dan Zona 10. Dalam mendesain dan menjalankan seluruh rantai operasinya, PHI senantiasa berkoordinasi erat dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) serta memegang teguh prinsip-prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Penerapan ESG ini dilakukan untuk memastikan bahwa kegiatan ekstraksi energi dilakukan secara ramah lingkungan, memberikan kemanfaatan sosial bagi warga sekitar, dan dikelola dengan tata kelola perusahaan yang bersih serta transparan.
​Sebagai gambaran rekam jejak historis, pada tahun 2025 lalu PHI mencatatkan realisasi produksi minyak sebesar 58 ribu barel per hari (MBOPD) dan produksi gas sebesar 630 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD). Konsistensi kinerja yang terjaga dari tahun ke tahun menunjukkan kapasitas dan keandalan PHI sebagai produsen migas papan atas di Indonesia. Dengan jangkauan operasi yang sangat luas di tanah Kalimantan, PHI berkomitmen untuk terus mengeksplorasi dan mengoperasikan sumber daya minyak dan gas bumi secara aman, efisien, patuh hukum, serta berkelanjutan demi mewujudkan kampanye semangat #EnergiKalimantanUntukIndonesia.
​”Bagi pekerja yang berlokasi di lapangan-lapangan migas di Kalimantan, semangat kemerdekaan diwujudkan dengan terus menjalankan tugas dalam kegiatan operasi yang berjalan 24 jam untuk memastikan energi terus mengalir bagi kebutuhan pembangunan dan kemajuan Indonesia. Kami ingin memastikan setiap barel minyak dan setiap kaki kubik gas yang diproduksikan oleh perusahaan akan memberikan kontribusi bagi ketahanan energi Indonesia serta menghasilkan dampak berganda bagi masyarakat dan pemerintah,” ujar Direktur Utama PHI, Muharram Jaya Panguriseng.
​”Semangat para pekerja PHI tersebut sejalan dengan dedikasi dan kinerja mereka dalam mencapai target produksi migas perusahaan serta target produksi nasional. Kami percaya ketersediaan dan ketahanan energi menjadi fondasi dalam pertumbuhan dan pembangunan Indonesia. Untuk itulah, PHI dan seluruh pekerjanya tiada henti bekerja dan terus mencari peluang untuk menemukan dan mengembangkan sumber daya energi yang ada di wilayah Kalimantan di mana kami beroperasi,” pungkas Manager Communication Relations & CID PHI, Dony Indrawan.
Sumber: PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI)








