
JAKARTA, Thewasesanews.com – Masuknya draft perlindungan dan pengakuan status pekerja perfilman ke dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketenagakerjaan yang akan menjadi bagian dari regulasi ketenagakerjaan baru yang direncanakan disahkan pada Oktober 2026 menjadi tonggak penting dalam perjuangan panjang pekerja perfilman Indonesia. Langkah ini diharapkan menjadi dasar hukum yang memberikan kepastian status, perlindungan hak, serta pengakuan profesi bagi para pekerja perfilman yang selama ini masih menghadapi berbagai tantangan dalam hubungan kerja.
Pencantuman draft tersebut merupakan hasil dari proses advokasi yang berlangsung secara konsisten selama lebih dari dua tahun oleh Federasi Serikat Pekerja Perfilman Indonesia (FSPPI) di bawah kepemimpinan Dr. Rizal Djibran. Dalam kurun waktu tersebut, FSPPI terus membangun komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan, menyusun kajian, serta menyampaikan berbagai usulan kebijakan agar karakteristik pekerjaan di sektor perfilman memperoleh pengakuan yang memadai dalam sistem ketenagakerjaan nasional.
Perjuangan tersebut juga memperoleh dukungan dari berbagai pihak yang memberikan kontribusi melalui gagasan, pendampingan, maupun upaya membangun komunikasi dengan lembaga-lembaga negara dan internasional. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong agar aspirasi pekerja perfilman dapat masuk ke dalam agenda pembahasan legislasi nasional.

Atas perkembangan tersebut, seluruh jajaran Federasi Serikat Pekerja Perfilman Indonesia (FSPPI), baik pengurus maupun anggota di seluruh Indonesia, menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak R. Abdullah yang dinilai telah membuka jalan, memberikan dukungan, serta turut memperjuangkan penguatan perlindungan hukum bagi pekerja perfilman Indonesia.
​”Masuknya draf perlindungan dan pengakuan status pekerja perfilman ke dalam pembahasan RUU Ketenagakerjaan baru ini merupakan awal dari babak baru perjuangan kita bersama. Langkah ini menjadi penegasan bahwa di balik setiap karya film nasional yang megah, terdapat manusia yang bekerja, berkarya, dan berhak mendapatkan kepastian hukum serta perlindungan yang layak. Perjuangan FSPPI belum selesai, kami akan mengawal proses ini hingga benar-benar sah menjadi norma hukum yang adil,” tegas Ketua Umum FSPPI, Dr. Rizal Djibran, di Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Ucapan terima kasih setinggi-tingginya juga disampaikan kepada para tokoh yang telah memberikan kontribusi besar terhadap lahir dan berkembangnya gerakan pekerja perfilman. Penghormatan khusus diberikan kepada almarhum Bapak Sugihartono sebagai salah satu inisiator berdirinya Federasi Serikat Pekerja Perfilman Indonesia (FSPPI), yang telah meletakkan fondasi perjuangan organisasi. Apresiasi yang sama juga disampaikan kepada Bung Yudi serta Ms. Aranya Pakapath, aktivis senior yang selama ini memberikan dukungan moral, pemikiran, dan jejaring advokasi baik ditingkat nasional maupun internasional dalam memperkuat perjuangan pekerja perfilman Indonesia.
FSPPI berharap pembahasan RUU Ketenagakerjaan dapat terus berlangsung secara konstruktif dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, sehingga pengaturan mengenai pekerja perfilman benar-benar mampu menjawab kebutuhan industri kreatif yang terus berkembang. Pengakuan terhadap status pekerja perfilman di dalam undang-undang diharapkan tidak hanya memberikan kepastian hukum, tetapi juga mendorong terciptanya hubungan kerja yang lebih adil, perlindungan sosial yang lebih kuat, standar kerja yang layak, serta peningkatan profesionalisme industri perfilman Indonesia.
Perjuangan ini belum berakhir. Masuknya draft perlindungan pekerja perfilman ke dalam pembahasan legislasi nasional merupakan awal dari sebuah babak baru—sebuah langkah menuju pengakuan bahwa di balik setiap karya film terdapat manusia yang bekerja, berkarya, dan berhak mendapatkan perlindungan yang layak. FSPPI akan terus mengawal dan menjaga perjuangan ini agar tidak berhenti pada sebuah draft, tetapi benar-benar menjadi norma hukum yang memberikan kepastian, keadilan, perlindungan, dan masa depan yang lebih baik bagi seluruh pekerja perfilman Indonesia.
Sumber: Dewan Pimpinan Pusat Federasi Serikat Pekerja Perfilman Indonesia (FSPPI)








