
YOGYAKARTA, thewasesanews.com – Ramayana ballet purawisata gelar malam puncak satkara ratri sebagai penanda perayaan emas eksistensi berkarya selama 50 tahun organisasi seni pertunjukan tersebut dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya Indonesia di pelataran Gazebo Garden, Tasneem Hotel Malioboro, Yogyakarta, Senin (10/8/2026). Perhelatan budaya ini menjadi tonggak sejarah penting bagi perjalanan seni pertunjukan tradisional di Daerah Istimewa Yogyakarta, mengingat kelompok ini secara konsisten terus menjaga tradisi pementasan saban malam tanpa henti sejak pertama kali berdiri hampir lima dekade silam.
​Eksistensi setengah abad Ramayana Ballet Purawisata tidak lepas dari dedikasi dan visi besar tiga tokoh penggiat seni budaya pada pertengahan dekade 1970-an. Inisiatif bersejarah ini pertama kali digagas oleh Dahanan yang saat itu menjabat sebagai Kepala Seksi Kesenian Taman Hiburan Rakyat (THR) Sasanasuka, bersama dua insan seni handal yakni Marcus Pardiman dan Suyadi. Ketiga sosok ini tergerak untuk membangun ruang kreasi seni pertunjukan tradisional yang berkesinambungan sekaligus menyajikan hiburan kebudayaan bernilai tinggi di Kota Yogyakarta.

​Melalui komitmen mendalam terhadap kelestarian seni daerah, ketiga penggagas tersebut menghimpun para penari muda berbakat dari berbagai pelosok daerah. Usaha keras itu membuahkan hasil hingga akhirnya pada 10 Agustus 1976, Organisasi Ramayana THR Sasanasuka resmi berdiri secara berdikari. Pertunjukan ini diawali sebagai sajian ekstra dari kesenian wayang orang yang dikemas secara anggun. Tanggal 10 Agustus 1976 tersebut hingga kini secara khidmat diperingati sebagai hari jadi resmi organisasi seni dan budaya Ramayana Ballet Purawisata yang berpusat di Yogyakarta.

​Seiring berjalannya waktu, dedikasi tinggi para seniman dan pengurus organisasi berhasil mengangkat popularitas pementasan hingga meraih predikat bergengsi “The Best in Town” dari kalangan wisatawan domestik maupun mancanegara. Puncak pengakuan nasional atas konsistensi tarian kolosal ini terukir pada 8 November 2002, ketika Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) secara resmi menganugerahkan rekor khusus kepada Ramayana Ballet Purawisata sebagai satu-satunya kelompok seni tari Ramayana yang berhasil berpentas secara berturut-turut selama 25 tahun setiap malam tanpa henti di panggung Amphitheater Purawisata.
​Menginjak usia emas 50 tahun pada pertengahan tahun 2026 ini, rangkaian acara menuju malam puncak diselenggarakan secara semarak dengan mengusung tema besar “50 Tahun Mengabdi, Menjaga Warisan Budaya”. Mengangkat tema eksistensi berkarya setengah abad dalam merawat warisan adiluhung bangsa, perayaan ini tidak sekadar menjadi ajang refleksi internal organisasi, melainkan wujud nyata pengabdian kebudayaan kepada masyarakat luas yang telah mendukung perjalanan panjang Ramayana Ballet Purawisata.

​Sejak awal tahun 2026, Ramayana Ballet Purawisata telah menggelar serangkaian kegiatan sosial dan kebudayaan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat luas, kalangan pelajar, komunitas seni lokal, hingga tokoh-tokoh lintas agama. Rangkaian program tersebut dirancang secara khusus untuk mendekatkan kembali seni budaya Ramayana kepada generasi muda di tengah derasnya arus modernisasi. Seluruh agenda interaktif tersebut berhasil menjadi jembatan emosional yang menghubungkan masyarakat dari berbagai latar belakang dengan nilai-nilai luhur perjalanan setengah abad seni pertunjukan ini.
​Semangat mengabdi dan menjaga warisan kebudayaan tersebut bermuara pada Malam Puncak Perayaan Anugerah Kebudayaan “Satkara Ratri” yang berlangsung di pelataran Gazebo Garden, Tasneem Hotel Malioboro, Yogyakarta. Momen sakral ini menjadi panggung apresiasi tertinggi bagi para pelaku seni, budayawan, dan instansi yang senantiasa mendedikasikan hidupnya untuk keberlangsungan seni tradisi Nusantara.
​Malam puncak perayaan ditandai dengan penyerahan Piala Bergilir Festival Konservasi Tari Ramayana ke-5 serta penganugerahan Anugerah Kebudayaan Mandira Baruga “Satkara Ratri”. Penghargaan kehormatan ini diserahkan kepada para tokoh dan pihak yang dinilai memiliki dedikasi, kontribusi luar biasa, serta komitmen tanpa henti dalam melestarikan, mengembangkan, dan memajukan ekosistem kebudayaan Indonesia di tingkat nasional maupun internasional.

​Penyelenggara acara, Dr. dr. Ulla Nuchrawaty Usman, M.M., hadir secara langsung untuk menyambut dan menerima para tamu kehormatan dari jajaran pejabat pemerintahan, tokoh kebudayaan, serta pimpinan lembaga nasional. Tropi Anugerah Kebudayaan “Satkara Ratri” diserahkan secara langsung oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Fadli Zon, S.S., M.Sc., sebagai bentuk pengakuan dan apresiasi tertinggi dari pemerintah pusat terhadap konsistensi kelestarian seni tradisi di Yogyakarta.
​Prosesi penganugerahan berlangsung khidmat dengan dilakukannya Pembacaan Naskah Penghargaan oleh akademisi dan pakar kebudayaan ternama, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil. Dalam momen penuh haru tersebut, Prof. Heddy didampingi langsung oleh Dahanan selaku Kepala Ramayana Purawisata sekaligus pionir pendiri, serta Nasyid Majidi yang bertindak sebagai Penasihat Acara Anugerah 50 Tahun Mengabdi, Menjaga Warisan Budaya Indonesia.
​Perhelatan emas ini turut dihadiri oleh jajaran tokoh penting dan figur publik kebudayaan nasional. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, hadir memberikan arahan dan apresiasi atas ketangguhan sanggar seni ini dalam mempertahankan identitas budaya Jogja. Hadir pula budayawan kondang Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), maestro tari legendaris Didik Nini Thowok, serta seniman kawakan Suyati yang akrab disapa Yati Pesek, yang memberikan warna kehangatan dalam perayaan setengah abad tersebut.
​Dukungan terhadap keberlanjutan seni pertunjukan dan industri kreatif tanah air juga ditunjukkan melalui kehadiran pimpinan organisasi profesi nasional. Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Perfilman Indonesia (FSPPI), Dr. Rizal Djibran, bersama Penasihat FSPPI, Paramitha Rusady, hadir sebagai tamu istimewa. Kehadiran jajaran pimpinan FSPPI menegaskan pentingnya sinergi antara seni pertunjukan tradisi dan industri media kreatif dalam menjaga kelestarian identitas budaya bangsa.
​”Eksistensi berkarya selama 50 tahun Kelompok Ramayana Ballet Purawisata menjadi bukti nyata ketangguhan sebuah organisasi kebudayaan di Yogyakarta dalam menjaga, merawat, dan melestarikan warisan budaya Indonesia agar tetap hidup dan menginspirasi generasi mendatang,” ungkap jajaran panitia penyelenggara di pelataran Gazebo Garden.
Perayaan 50 tahun Ramayana Ballet Purawisata ini menegaskan posisi Yogyakarta sebagai benteng utama kebudayaan Jawa yang terus berdenyut. Melalui komitmen pementasan tanpa henti dan regenerasi penari muda yang konsisten, panggung Ramayana Ballet Purawisata terbukti mampu melintasi zaman, mempertahankan warisan leluhur, serta menjadi kebanggaan kebudayaan bangsa Indonesia di mata dunia.
Sumber: Press Release Ramayana Ballet Purawisata Yogyakarta








