
KURIMA YAHUKIMO, The Wasesa News – Di tengah tantangan geografis yang ekstrem dan dinamika wilayah penugasan di pedalaman Papua Pegunungan, integritas dan dedikasi prajurit TNI Angkatan Darat kembali bersinar melalui aksi kemanusiaan yang menyentuh akar rumput. Satuan Tugas Batalyon Infanteri (Satgas Yonif) 521/Dadaha Yodha (DY) secara nyata membuktikan bahwa kehadiran militer di daerah penugasan tidak hanya berfokus pada aspek stabilitas keamanan, melainkan juga menjadi motor penggerak bagi peningkatan kesejahteraan dan ketahanan pangan masyarakat lokal.

[ez-toc]

Pada Minggu, 25 April 2026, personel Satgas Yonif 521/DY dari Pos Kurima secara sukarela turun ke ladang-ladang milik warga di Distrik Kurima, Kabupaten Yahukimo, untuk bahu-membahu mengolah lahan pertanian. Langkah ini diambil sebagai manifestasi dari komitmen TNI dalam mendukung program pemerintah pusat untuk memperkuat kedaulatan pangan, khususnya di wilayah-wilayah terpencil yang memiliki aksesibilitas terbatas namun memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah jika dikelola dengan teknik yang tepat dan dukungan tenaga yang memadai.
Kehadiran para prajurit yang dikenal dengan julukan “Macan Kumbang” di tengah perkebunan warga ini dipimpin langsung oleh Danpos Kurima, Lettu Inf Dany Rizki Hardiyanto, S.Tr.Han. Kegiatan berkebun bersama masyarakat ini merupakan bagian integral dari program Pembinaan Teritorial (Binter) yang bersifat adaptif dan solutif. Dengan melepaskan atribut tempur dan menggantinya dengan alat-alat pertanian, personel Satgas Yonif 521/DY menunjukkan sisi humanis mereka dengan membantu warga mulai dari pembersihan lahan, penggemburan tanah, hingga penanaman berbagai jenis bibit pangan lokal. Kolaborasi ini bertujuan untuk menstimulasi semangat kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari tanpa harus selalu bergantung pada pasokan logistik dari luar wilayah yang sering kali terkendala oleh faktor cuaca dan transportasi udara.
Lettu Inf Dany Rizki Hardiyanto, S.Tr.Han, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar bantuan fisik yang bersifat sementara, melainkan sebuah proses transfer pengetahuan dan edukasi sederhana mengenai teknik bercocok tanam yang lebih efektif dan efisien. Para prajurit memberikan pendampingan mengenai cara pengaturan jarak tanam, pengelolaan drainase yang baik di lahan miring, hingga pemanfaatan pupuk organik dari limbah alam sekitar.

Dengan adanya pendampingan ini, diharapkan produktivitas hasil kebun masyarakat Distrik Kurima dapat meningkat secara signifikan dibandingkan musim tanam sebelumnya. Edukasi di lapangan ini menjadi ruang dialog yang hangat antara prajurit dan warga, di mana terjadi pertukaran pengalaman antara teknik pertanian modern yang dibawa TNI dan kearifan lokal yang telah lama dijalankan oleh masyarakat adat Papua Pegunungan.
Komandan Satgas Yonif 521/DY, Letkol Inf Rahadyan Surya Murdata, S.E., M.I.P., dalam keterangan resminya menyampaikan bahwa keterlibatan aktif Satgas dalam sektor pertanian di wilayah Kurima adalah wujud dari “TNI Manunggal Membangun Desa” dalam skala yang lebih intim dan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa keberhasilan penugasan di Papua tidak hanya diukur dari nihilnya gangguan keamanan, tetapi juga dari seberapa besar dampak positif yang dirasakan langsung oleh perut dan dompet masyarakat.
Melalui kegiatan berkebun ini, Satgas ingin hadir sebagai solusi atas kesulitan-kesulitan rakyat, sesuai dengan amanat delapan wajib TNI. Kemanunggalan yang tercipta di ladang-ladang Kurima ini diharapkan mampu merajut ikatan persaudaraan yang lebih kokoh antara prajurit dengan warga asli Papua, sehingga tercipta stabilitas wilayah yang berbasis pada kesejahteraan ekonomi.
“Kami dari Satgas Yonif 521/DY ingin senantiasa hadir memberikan manfaat yang nyata dan terasa langsung oleh masyarakat di wilayah penugasan kami. Keterlibatan kami membantu warga berkebun ini memiliki makna mendalam, bukan hanya soal menanam bibit, tapi soal menanam kepercayaan dan persaudaraan. Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat di Distrik Kurima dapat lebih mandiri secara pangan, dan hasilnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh seluruh anggota keluarga. Ketahanan pangan adalah fondasi dari ketahanan wilayah, dan kami bangga bisa menjadi bagian dari proses pembangunan kesejahteraan di Papua Pegunungan ini,” ujar Letkol Inf Rahadyan Surya Murdata dengan penuh semangat patriotisme.
Antusiasme dan kegembiraan warga Distrik Kurima tampak jelas selama kegiatan berlangsung. Suara tawa dan obrolan akrab memecah kesunyian lembah Papua saat para prajurit dan warga bekerja berdampingan di bawah terik matahari. Kehadiran Satgas Yonif 521/DY di kebun-kebun mereka memberikan motivasi baru bagi para petani lokal untuk lebih giat dalam mengembangkan potensi pertanian daerahnya.
Bagi warga Kurima, kehadiran TNI yang bersedia kotor-kotoran di lumpur bersama mereka adalah pemandangan yang sangat menyejukkan hati dan memberikan rasa aman sekaligus nyaman. Hal ini secara tidak langsung juga memperkecil ruang bagi pengaruh-pengaruh negatif yang dapat mengganggu stabilitas wilayah, karena masyarakat merasa dilindungi dan dibantu secara nyata dalam urusan kehidupan sehari-hari.
Salah satu tokoh masyarakat sekaligus pemilik lahan, Bapak Martinus, menyampaikan rasa harunya atas kepedulian yang ditunjukkan oleh para prajurit Macan Kumbang. Ia mengakui bahwa selama ini pengerjaan kebun dilakukan secara manual dengan anggota keluarga yang terbatas, sehingga progres perluasan lahan sering kali berjalan lambat.
Dengan bantuan tenaga dari personel Satgas, pekerjaan yang biasanya memakan waktu satu minggu kini dapat diselesaikan hanya dalam waktu dua hari. Bapak Martinus berharap agar kedekatan seperti ini terus dijaga dan program bantuan pertanian dapat terus berlanjut hingga masa panen tiba, agar hasil yang didapatkan benar-benar maksimal untuk memenuhi kebutuhan pangan warga desa.
“Kami masyarakat Kurima sangat senang dan sangat terbantu dengan adanya Bapak-bapak TNI dari Yonif 521. Mereka tidak hanya jaga keamanan kami, tapi mereka juga tidak malu untuk pegang cangkul dan bantu kami di kebun. Harapannya, kegiatan seperti ini terus ada, karena dengan bantuan mereka, hasil kebun kami pasti akan lebih banyak. Terima kasih banyak untuk Satgas Yonif 521, kalian sudah seperti keluarga sendiri bagi kami di sini,” ungkap Bapak Martinus dengan mata berbinar penuh rasa syukur.
Lebih jauh, Satgas Yonif 521/DY juga melihat potensi pertanian di Kurima sebagai salah satu pilar untuk mengurangi ketergantungan wilayah terhadap barang-barang konsumsi yang didatangkan dari luar daerah dengan biaya tinggi. Dengan penguatan ketahanan pangan lokal, daya beli masyarakat dapat meningkat karena uang yang seharusnya digunakan untuk membeli bahan pangan bisa dialokasikan untuk pendidikan anak-anak atau perbaikan hunian. Inilah visi jangka panjang yang sedang dirintis oleh Satgas Yonif 521/DY di daerah perbatasan dan wilayah terpencil Papua Pegunungan.
Kegiatan berkebun bersama ini ditutup dengan sesi makan siang bersama di pinggir kebun, sebuah potret sederhana namun sangat kuat dalam menggambarkan kemanunggalan TNI-Rakyat. Satgas Yonif 521/DY berkomitmen untuk terus melaksanakan program-program binter serupa di wilayah-wilayah lain yang menjadi tanggung jawabnya. Dengan slogan “Prajurit Macan Kumbang Berhasil”, satuan ini bertekad untuk meninggalkan jejak kebaikan dan kemakmuran di setiap jengkal tanah Papua yang mereka pijak. Ketahanan pangan nasional yang dimulai dari kebun-kebun kecil di pelosok Papua adalah sebuah langkah besar menuju Indonesia yang lebih kuat dan berdaulat.
Autentikasi: Pendam Satgas Yonif 521








