
SINGAPURA, The Wasesa News – Kapal layar latih legendaris kebanggaan TNI Angkatan Laut, KRI Bima Suci, resmi memulai etape penting dalam pelayarannya dengan merapat di Dermaga Changi Naval Base, Singapura, pada Kamis (30/04/2026). Kedatangan kapal layar tiang tinggi ini merupakan bagian dari pelaksanaan Satgas Muhibah Diplomasi Duta Bangsa serta Latihan Praktek (Lattek) Kartika Jala Krida (KJK) tahun 2026. Sebagai instrumen vital dalam diplomasi pertahanan Indonesia, kehadiran KRI Bima Suci di Singapura bukan sekadar persinggahan logistik, melainkan simbol kuat dari komitmen Indonesia dalam mempererat kerja sama maritim serta memperkokoh hubungan bilateral yang telah terjalin lama dengan Singapura. Kehadiran kapal ini di perairan internasional membawa misi mulia untuk memperkenalkan kebudayaan nusantara sekaligus mengasah profesionalisme prajurit masa depan TNI AL.

[ez-toc]

Etape Singapura ini menjadi babak krusial dalam perjalanan panjang muhibah diplomasi yang diikuti oleh para Taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) Angkatan ke-73. Melalui program ini, para calon pemimpin TNI AL tersebut diberikan kesempatan langka untuk mempraktikkan ilmu navigasi dan kebaharian mereka di jalur pelayaran tersibuk di dunia, sembari menjalankan peran sebagai duta bangsa. Kedatangan kapal megah ini disambut dengan upacara penyambutan yang hangat dan penuh rasa persahabatan oleh sejumlah pejabat tinggi Indonesia di Singapura serta perwakilan dari militer setempat.
Dalam prosesi penyambutan di dermaga Changi, tampak hadir Deputy Chief of Mission (DCM) KBRI Singapura, Bapak Susilo Djati Ismojo, yang didampingi oleh Staf Ahli Kepala Staf Angkatan Laut (Sahli Kasal) Laksda TNI Monang Hatarongan. Selain itu, jajaran Atase Pertahanan RI juga turut memberikan dukungan penuh, di antaranya Atase Pertahanan RI Kolonel (Pnb) Hendra Supriyadi, Atase Laut Kolonel (Mar) Novianto Danang Kurniawan, Atase Darat Kolonel Inf M. Windra Lisrianto, serta Staf KBRI Singapura Bapak Wiliyam Saroinsong. Turut serta menyambut jajaran perwakilan dari Republic of Singapore Navy (RSN) beserta perwira penghubung lainnya seperti ILO IFC Letkol Laut (P) Wahyu Idarta dan Asisten Atase Pertahanan Mayor Laut (P) Ardias Martanto. Kehadiran para pejabat lintas matra ini menegaskan pentingnya posisi Singapura dalam peta diplomasi pertahanan Indonesia.

Komandan KRI Bima Suci, Letkol Laut (P) Sugeng Hariyanto, M.Tr.Opsla., yang juga menjabat sebagai Komandan Satgas KJK 2026, menjelaskan bahwa kunjungan ke Negeri Singa ini merupakan salah satu pilar utama dalam misi diplomasi TNI Angkatan Laut melalui jalur laut. Selain berfungsi untuk mempererat hubungan antarkedua negara, kegiatan ini menjadi laboratorium hidup bagi para Taruna AAL untuk memahami dinamika kerja sama maritim internasional secara langsung. “Kunjungan ini memberikan perspektif baru bagi para Taruna mengenai bagaimana menjaga hubungan antarnegara melalui interaksi militer yang elegan. Di sini, mereka belajar bahwa diplomasi tidak hanya dilakukan di meja perundingan, tetapi juga melalui kehadiran fisik armada di laut,” jelas Letkol Laut (P) Sugeng Hariyanto.
Selama bersandar di Singapura, Satgas KJK 2026 telah menyusun berbagai agenda diplomasi yang padat dan menarik. Para Taruna dan kru kapal akan melaksanakan interaksi profesional dengan personel Republic of Singapore Navy, termasuk kegiatan pertukaran pengetahuan mengenai operasional kapal layar. Tidak hanya itu, KRI Bima Suci juga akan membuka pintu bagi masyarakat setempat dan komunitas maritim untuk berkunjung dalam acara open ship. Melalui kegiatan ini, kekayaan budaya Indonesia seperti tarian daerah dan kuliner khas nusantara akan dipromosikan sebagai jembatan lunak (soft power diplomacy) untuk membangun sentimen positif terhadap Indonesia di kancah global.

Kegiatan pelayaran muhibah ini merupakan implementasi nyata dari Program Prioritas Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali. Dalam berbagai kesempatan, Kasal selalu menekankan bahwa peran naval diplomacy atau diplomasi angkatan laut adalah instrumen yang sangat efektif untuk memperkuat posisi strategis Indonesia di mata dunia internasional. Angkatan laut bukan hanya penjaga kedaulatan, tetapi juga penghubung persahabatan antarbangsa. Dengan mengirimkan KRI Bima Suci ke berbagai negara sahabat, Indonesia ingin menunjukkan eksistensi sebagai negara maritim besar yang menjunjung tinggi perdamaian dan kerja sama kawasan.
Keberadaan KRI Bima Suci sebagai kapal latih juga menonjolkan aspek keberlanjutan tradisi bahari Indonesia. Meskipun dunia militer kini didominasi oleh teknologi digital dan persenjataan canggih, kemampuan dasar dalam menguasai kapal layar tetap menjadi kurikulum wajib bagi para Taruna AAL. Hal ini bertujuan untuk membentuk karakter pelaut yang tangguh, memiliki insting laut yang tajam, serta mampu bekerja dalam tim di bawah tekanan kondisi alam. Karakter inilah yang diharapkan akan melekat pada diri para calon perwira saat mereka nanti memimpin unit-unit tempur di jajaran TNI AL.

Melalui pelayaran Kartika Jala Krida 2026 ini, KRI Bima Suci diharapkan mampu meninggalkan jejak diplomasi yang mendalam di Singapura sebelum melanjutkan etape berikutnya. Kapal ini membawa pesan bahwa Indonesia senantiasa siap menjadi mitra strategis dalam menjaga keamanan dan stabilitas di kawasan Asia Tenggara, khususnya di Selat Malaka yang menjadi nadi perdagangan dunia. Setiap tiang yang menjulang di KRI Bima Suci bukan hanya penyangga layar, melainkan tiang-tiang persahabatan yang menghubungkan Indonesia dengan dunia luar.
Pelepasan misi ini di Singapura nantinya akan diakhiri dengan harapan bahwa para Taruna AAL Angkatan ke-73 kembali ke tanah air sebagai perwira yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki wawasan internasional yang luas. Sebagai duta bangsa, KRI Bima Suci telah berhasil menjalankan perannya dengan gemilang, membawa harum nama Indonesia dalam setiap deburan ombak yang dilaluinya di Changi Naval Base.
Sumber: Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut.








