
WEDA, The Wasesa News – Gelap Gulita Itu Istilah orang Timur Kota Weda Setelah di Guyur hujan deras Senin malam Nampaknya Seluruh Fasilitas Pemerintah Daerah juga turut Mati mulai dari Air bersih yang tak kunjung Mengalir Listrik pun ikut Padam secara serentak di berbagai sudut kota, Selasa (02/06/2026). Fenomena kelumpuhan infrastruktur dasar ini menjadi perhatian serius karena menghambat seluruh aktivitas domestik maupun roda perekonomian masyarakat sipil pascabencana hidrometeorologi melanda wilayah tersebut. Kondisi ini menuntut adanya respons cepat dari otoritas penyedia layanan publik agar tidak membiarkan wilayah pusat pemerintahan Kabupaten Halmahera Tengah ini terus berada dalam situasi keterisolasian energi.
Jika kebutuhan warga utama air dan listrik mati maka gelap lah sudah Penderitaan, sebuah gambaran nyata mengenai rapuhnya manajemen pengelolaan utilitas publik di daerah lingkar industri. Dampak buruk dari pemadaman massal ini memicu gelombang protes dari kelompok pemuda dan aktivis sosial yang mendesak transparansi tata kelola dari instansi penanggung jawab. Maka publik tersorot tajam kepada pihak PLN dan PDAM untuk memberikan kejelasan pemadaman listrik dan Air secara jujur kepada pelanggan yang selama ini taat membayar iuran bulanan namun sering kali dirugikan oleh buruknya kualitas pelayanan teknis di lapangan.
Penderitaan paling berat dirasakan oleh kelompok ibu rumah tangga yang kesulitan mengurus kebutuhan domestik keluarga akibat ketiadaan dua elemen penting tersebut sejak semalam. Sementara itu salah satu warga Rina ibu rumah tangga mengeluh karena dari semalam anak anak belum mandi dan pakaian kotor menumpuk belum bisa cuci secara layak. Kondisi sanitasi yang memburuk di pemukiman padat penduduk ini dikhawatirkan dapat memicu penyebaran penyakit kulit dan gangguan kesehatan lainnya apabila penanganan teknis dari pihak pengelola terus mengalami penundaan tanpa alasan yang jelas.
Jeritan warga mengenai buruknya pelayanan infrastruktur ini mencerminkan kegagalan mitigasi bencana dari lini perusahaan pelat merah yang seharusnya memiliki sistem cadangan darurat. “Sampai jam ini anak kami mau mandi juga belum bisa karena air tidak mengalir di wilayah Nurweda,” pungkas Rina dengan nada penuh kekecewaan saat diwawancarai oleh awak media di depan kediamannya. Pernyataan tersebut menjadi potret nyata dari ratusan kepala keluarga di Desa Nurweda yang terpaksa bertahan hidup di tengah keterbatasan akses air bersih tanpa adanya kepastian kapan pasokan akan kembali normal.
Merespons krisis lingkungan perkotaan yang berlarut-larut ini, elemen masyarakat sipil mulai menyuarakan mosi tidak percaya terhadap pimpinan lembaga penyedia layanan energi dan air di daerah. Publik pun sorot kinerja Kepala PLN yang tidak beres mengatasi Pemadaman listrik yang terus mati selain itu pemerintah juga perlu cepat untuk melantik Dirut PDAM agar bisa mengatasi Air bersih yang selalu menjadi kebutuhan utama bagi warga Halmahera Tengah. Pengisian jabatan definitif di tubuh PDAM dinilai menjadi langkah krusial agar lembaga tersebut memiliki legitimasi kuat dalam melakukan pembenahan jaringan pipa yang rusak akibat banjir demi mewujudkan tatanan kota yang aman, nyaman, sehat, sejahtera, dan berdaulat.
Sumber: Liputan Lapangan dan Keluhan Interaktif Pelanggan PLN-PDAM di Desa Nurweda





