
WEDA, The Wasesa News – Ratusan rumah warga kebanjiran dengan ketinggian air di atas lutut orang dewasa setelah hujan deras dengan intensitas tinggi mengguyur seluruh wilayah perkotaan Weda dan sekitarnya sejak beberapa jam terakhir, Senin (01/06/2026). Langkah taktis evakuasi mandiri terpaksa dilakukan oleh masyarakat setempat secara swadaya menggunakan bantuan alat apa adanya demi menyelamatkan barang berharga serta jiwa keluarga mereka dari kepungan arus air yang terus meningkat. Kondisi darurat ini dioptimalkan oleh warga sebagai alarm keras atas kerentanan sistem drainase perkotaan, sekaligus menjadi potret kelam tahunan yang terus menghantui ruang hidup sipil setiap kali musim penghujan tiba di wilayah Halmahera Tengah.
Dampak buruk dari cuaca ekstrem ini juga terpantau meluas hingga ke wilayah pemukiman padat di Desa Nurweda, di mana puluhan rumah tinggal dan bangunan kos-kosan pekerja industri dilaporkan terendam air luapan dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Lantaran genangan air tidak kunjung surut dan justru semakin meninggi, warga sekitar terpaksa mengungsi mencari tempat yang lebih aman di kampung tetangga yang posisinya secara geografis jauh lebih tinggi dan terbebas dari jangkauan banjir. Arus pengungsian harian ini terus mengalir di tengah kepanikan warga yang berusaha menyelamatkan anak-anak serta harta benda mereka ke titik-titik kumpul sementara yang dinilai representatif.

Sangat disayangkan, sampai saat ini dilaporkan belum ada tindakan konkret maupun pergerakan taktis di lapangan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Tengah maupun Pemerintah Provinsi Maluku Utara dalam menurunkan tim evakuasi resmi. Minimnya kehadiran otoritas penanggulangan bencana di lokasi terdampak memaksa ratusan warga yang ketakutan memilih untuk mengungsi secara mandiri ke Kediaman Bupati serta area Kantor Bupati Halmahera Tengah. Langkah massal ini diambil oleh jemaat korban banjir guna mengamankan diri, sekaligus menjaga kewaspadaan tingkat tinggi jangan sampai ada terjangan banjir susalan atau kiriman air bah berbahaya yang bersumber dari luapan Sungai Moriala.
Ketiadaan skema mitigasi yang responsif memicu gelombang protes dan keluhan dari masyarakat yang merasa ditinggalkan di tengah situasi kritis yang mengancam keselamatan nyawa. Salah satu warga setempat yang enggan disebut namanya menyatakan dengan penuh kekecewaan, bahwa masyarakat sangat mengharapkan untuk semua pihak terkait, terutama badan penanggulangan bencana, agar secepatnya melakukan tindakan tanggap darurat yang nyata. Hal ini dikarenakan ada banyak anak kecil serta orang tua lansia yang saat ini kondisinya sangat rentan dan terpaksa dievakuasi oleh warga dengan peralatan seadanya tanpa adanya panduan medis maupun logistik harian yang memadai dari pemerintah yang berdaulat.
Sumber: Liputan Lapangan dan Laporan Interaktif Korban Banjir Bandang Kota Weda





