Perjuangan Soegihartono FSPPI Hak Pekerja Film Indonesia. - thewasesanews.com

Warisan Perjuangan Almarhum Soegihartono: Menggugat Pola Kerja Ekstrem dan Menjaga Martabat Pekerja Perfilman Indonesia

Kepergian pendiri FSPPI Soegihartono menjadi momentum refleksi kritis untuk mengevaluasi jam kerja tidak sehat dan memperjuangkan hak serta keselamatan pekerja film di balik layar.

 

Jakarta – Kepergian Soegihartono meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga besar Federasi Serikat Pekerja Perfilman Indonesia (FSPPI). Namun, kehilangan ini tidak semestinya hanya dipandang sebagai peristiwa duka. Lebih dari itu, kepergian beliau harus menjadi momentum refleksi bagi seluruh insan perfilman Indonesia untuk meninjau kembali bagaimana industri ini memperlakukan para pekerjanya.

Soegihartono bukan sekadar Ketua Serikat Pekerja Artistik Film Indonesia. Ia adalah salah satu inisiator sekaligus pendiri Federasi Serikat Pekerja Perfilman Indonesia, sebuah organisasi yang lahir dari kegelisahan kolektif ribuan pekerja perfilman yang selama bertahun-tahun menghadapi berbagai persoalan ketenagakerjaan. Di balik setiap proses produksi yang menghasilkan karya berkualitas, masih terdapat kenyataan yang sering luput dari perhatian publik: jam kerja yang panjang, waktu istirahat yang terbatas, tekanan pekerjaan yang tinggi, serta belum meratanya perlindungan terhadap hak-hak pekerja.

Realitas inilah yang mendorong Soegihartono bersama para pendiri lainnya membangun FSPPI sebagai wadah persatuan. Baginya, kemajuan industri perfilman tidak boleh hanya diukur dari jumlah penonton, penghargaan, atau keuntungan ekonomi. Kemajuan sejati hanya dapat dicapai apabila para pekerja yang berada di balik layar memperoleh perlindungan, penghormatan, dan kondisi kerja yang layak.

Ironisnya, di tengah perjuangan tersebut, Soegihartono memilih menyembunyikan kondisi kesehatannya. Ia tidak ingin rekan-rekannya mengetahui bahwa tubuhnya sedang melemah karena khawatir akan diminta mengurangi aktivitas perjuangan. Baginya, perjuangan membangun organisasi pekerja jauh lebih penting daripada kenyamanan pribadinya.

Apa yang dialaminya sesungguhnya bukan sekadar persoalan individu. Kondisi kesehatannya merupakan akumulasi dari bertahun-tahun bekerja dalam pola kerja yang tidak sehat, sebuah realitas yang masih dialami oleh banyak pekerja di sektor perfilman. Ketika jam kerja berlangsung tanpa batas yang jelas, waktu istirahat diabaikan, dan tekanan produksi terus meningkat, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kualitas pekerjaan, tetapi juga kesehatan, keselamatan, bahkan kehidupan para pekerjanya.

Di sinilah letak pelajaran terbesar dari kisah Soegihartono. Dunia kerja modern tidak boleh lagi memandang kelelahan sebagai simbol dedikasi atau menganggap pengorbanan kesehatan sebagai harga yang harus dibayar demi profesionalisme. Cara berpikir seperti itu justru melahirkan budaya kerja yang tidak berkelanjutan.

Produktivitas tidak boleh dibangun di atas kelelahan yang berkepanjangan. Kreativitas tidak boleh tumbuh dari tubuh yang dipaksa bekerja melampaui batas kemampuannya. Industri yang sehat hanya dapat lahir apabila pekerjanya juga sehat, baik secara fisik maupun mental.

Perjuangan Soegihartono juga mengajarkan bahwa keberadaan serikat pekerja bukanlah penghambat pertumbuhan industri, melainkan salah satu pilar yang menjaga keseimbangan antara kepentingan usaha dan hak-hak pekerja. Serikat pekerja hadir bukan untuk menciptakan konflik, tetapi untuk membangun dialog, menciptakan kepastian kerja, serta mendorong lahirnya hubungan industrial yang adil dan berkelanjutan.

FSPPI sendiri lahir dari kesadaran bahwa perubahan tidak mungkin diperjuangkan secara sendiri-sendiri. Persatuan menjadi kekuatan utama dalam memperjuangkan sistem kerja yang lebih manusiawi. Ketika berbagai serikat pekerja perfilman memilih berhimpun dalam satu federasi, yang sedang dibangun sesungguhnya bukan sekadar organisasi, melainkan sebuah gerakan sosial yang bertujuan meningkatkan kualitas kehidupan para pekerja perfilman Indonesia.

Kepergian Soegihartono karena itu tidak boleh berhenti sebagai ungkapan belasungkawa. Warisan pemikirannya harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Industri perfilman Indonesia membutuhkan budaya kerja yang lebih sehat, regulasi yang berpihak pada keselamatan pekerja, penghormatan terhadap batas jam kerja yang manusiawi, serta komitmen bersama untuk memastikan bahwa setiap orang yang bekerja di balik layar dapat menjalankan profesinya tanpa harus mempertaruhkan kesehatannya.

Sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar hampir selalu diawali oleh keberanian segelintir orang yang memilih memperjuangkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Soegihartono telah memberikan teladan tersebut. Ia membuktikan bahwa kepemimpinan bukanlah tentang kekuasaan, melainkan tentang pengabdian; bukan tentang seberapa lama seseorang memimpin, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang ditinggalkan bagi generasi berikutnya.

Kini estafet perjuangan berada di tangan seluruh keluarga besar FSPPI dan seluruh pekerja perfilman Indonesia. Menghormati jasa Soegihartono bukan hanya dengan mengenang namanya, melainkan dengan melanjutkan cita-citanya: membangun industri perfilman Indonesia yang produktif tanpa mengorbankan kesehatan pekerja, maju tanpa meninggalkan keadilan, serta berkembang dengan tetap menjunjung tinggi martabat setiap insan yang bekerja di balik layar.

Sebab pada akhirnya, kualitas sebuah industri tidak hanya diukur dari karya yang dihasilkannya, tetapi juga dari cara industri tersebut memperlakukan manusia yang menciptakan karya itu. Itulah warisan pemikiran yang ditinggalkan Soegihartono—warisan yang layak dijaga dan diperjuangkan oleh setiap generasi pekerja perfilman Indonesia.Versi ini lebih menyerupai artikel opini di media nasional: tidak hanya menceritakan sosok Soegihartono, tetapi juga mengangkat isu jam kerja sehat, keselamatan kerja, hubungan industrial, dan peran serikat pekerja sehingga memiliki nilai edukasi yang lebih tinggi dan relevan bagi pembaca luas.

Zulfikar
Zulfikar

Leave a Reply