
JAKARTA, The Wasesa News – Isu krusial mengenai stabilitas ekonomi pemerintahan Prabowo kini menjadi sorotan tajam setelah Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan serangkaian catatan kritis serta pesan strategis bagi keberlangsungan fiskal nasional, Kamis (11/06/2026). Melalui pernyataan resmi di akun media sosial X pribadinya, Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat tersebut secara khusus mewanti-wanti jajaran kabinet saat ini agar tidak cepat berpuas diri terhadap capaian pasar jangka pendek. SBY menekankan pentingnya langkah mitigasi risiko yang konsisten guna mengantisipasi pembengkakan utang negara serta lonjakan harga barang baku yang berpotensi menekan daya beli masyarakat akar rumput.
Di awal paparannya, SBY memberikan apresiasi objektif atas performa impresif nilai tukar rupiah dan pergerakan Indeks Harga Saham Gangguan (IHSG) yang menunjukkan tren penguatan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Menurut pandangannya, momentum apresiasi di pasar keuangan tersebut merupakan sinyal positif yang wajib disyukuri lantaran merefleksikan tingginya tingkat kepercayaan para pelaku pasar dan investor terhadap fundamental ekonomi domestik. Kendati demikian, stabilitas makro tersebut dinilai masih sangat rentan terhadap sentimen geopolitik luar negeri sehingga membutuhkan benteng kebijakan yang jauh lebih kokoh dari otoritas moneter dan eksekutif.
Sorotan paling tajam dalam wejangan politik ekonomi tersebut diarahkan langsung pada postur kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta rasio utang luar negeri yang terus bergerak dinamis. SBY mengingatkan bahwa pengelolaan kebijakan fiskal yang kurang terukur hanya akan meninggalkan warisan beban finansial yang berat bagi struktur keuangan negara di masa depan. Ketahanan ekonomi nasional secara jangka panjang sangat bergantung pada bagaimana pemerintah membatasi penarikan utang baru dan mengalokasikannya secara produktif untuk sektor-sektor yang memiliki dampak multiplier tinggi bagi kesejahteraan rakyat.
”Ke depan, hari-hari mendatang, kita berharap Pemerintah terus melakukan langkah-langkah stabilisasi ekonomi. Mencegah terjadinya kenaikan harga barang dan jasa yang bisa memukul kehidupan rakyat,” tulis Susilo Bambang Yudhoyono dalam unggahan digitalnya yang langsung memicu perbincangan hangat di ruang publik.
Selain bertumpu pada indikator makro, stabilitas riil di tingkat domestik juga wajib dipertahankan melalui instrumen pengendalian harga barang dan jasa yang ketat di pasar tradisional maupun modern. Kenaikan harga kebutuhan pokok dan ongkos produksi dinilai sebagai ancaman laten yang dapat seketika mereduksi tingkat kesejahteraan masyarakat, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. Oleh karena itu, komunikasi publik yang transparan dan penetapan regulasi ekonomi yang jelas menjadi instrumen vital untuk meredam spekulasi liar di sektor komoditas.
”Yang tidak kalah pentingnya, melindungi rakyat kita yang sangat terdampak dengan situasi ekonomi, termasuk dampak dari kenaikan harga BBM,” tegas SBY mengingatkan kewajiban fundamental negara dalam memberikan jaring pengaman sosial yang adaptif.
SBY menutup catatan strategisnya dengan nada optimisme bahwa pemerintah bersama Bank Indonesia memiliki kapasitas serta sumber daya yang cukup untuk melewati masa-masa penuh tekanan ekonomi ini. Konsistensi dalam mematuhi peta jalan ekonomi yang prorakyat dan meminimalkan beban utang baru diyakini akan menjadi kunci utama bagi Indonesia untuk tetap tegak berdiri di tengah badai ketidakpastian ekonomi global.
Sumber: Pernyataan Resmi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melalui Platform X


