
BEKASI, The Wasesa News – Kekecewaan mendalam memicu eskalasi ketegangan di kawasan industri EJIP, Cikarang Selatan. Ratusan buruh yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Global Indonesia (F-SPGI) bersama Federasi Serikat Pekerja Perfilman Indonesia (F-SPPI) menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di depan gerbang PT Indonesia Epson Industry sejak Rabu (01/07/2026). Aksi massa ini meletus sebagai dampak langsung atas sikap manajemen perusahaan yang dinilai secara sepihak membatalkan agenda dialog sosial strategis yang sedianya dihadiri oleh Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) RI demi mengurai karut-marut perselisihan industrial di internal pabrik.
Aksi pendudukan fasilitas luar pabrik yang berlokasi di Kawasan EJIP Lot 4E, Jalan Cisokan Raya, Desa Sukaresmi ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari berturut-turut, mulai Rabu hingga Jumat (1–3 Juli 2026). Massa buruh secara konsisten bertahan sejak pukul 07.00 hingga 18.00 WIB untuk menuntut transparansi dan pertanggungjawaban langsung dari Presiden Direktur PT Indonesia Epson Industry atas nasib ratusan pekerja yang digantung tanpa kepastian hukum.


Gelombang protes keras ini dipicu oleh akumulasi kekecewaan atas kebijakan manajemen yang melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak terhadap 11 karyawan yang merupakan pengurus dan anggota serikat F-SPGI. Selain tudingan union busting (pemberangusan serikat pekerja), buruh juga menuntut kepastian nasib sejumlah karyawan lain yang telah diskorsing selama 2,5 bulan sejak April 2026 tanpa kejelasan status kerja maupun finansial.
Substansi tuntutan buruh tidak hanya mandek pada persoalan PHK, melainkan juga menyoroti dugaan penyalahgunaan sistem Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) untuk jenis pekerjaan yang bersifat tetap. Massa mendesak perusahaan segera melakukan penyesuaian regulasi, mengevaluasi masa kerja PKWT selama 5 tahun sesuai Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang berlaku, serta mengalihkan status hukum para pekerja menjadi Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu (PKWTT) atau karyawan tetap.
Koordinator Aksi Damai sekaligus Pengurus F-SPGI, Abdul Bais, membeberkan bahwa konflik industrial ini sebenarnya telah diupayakan melalui jalur mediasi formal di Kementerian Ketenagakerjaan pada 25 Mei 2026 lalu. Pasca-demonstrasi di Jakarta, Wamenaker secara responsif berkomitmen untuk melakukan peninjauan langsung ke pabrik Epson di Cikarang pada 4 Juni 2026 untuk mengusut dugaan union busting dan pelanggaran PKWT tersebut. Namun, agenda tersebut mulai menghadapi ganjalan ketika manajemen berdalih bahwa Presdir perusahaan sedang sakit, sehingga pertemuan dijadwalkan ulang menjadi 18 Juni 2026.
Harapan buruh untuk mencapai mufakat dalam dialog sosial tersebut akhirnya kandas total. Manajemen PT Indonesia Epson Industry kedapatan melayangkan surat resmi yang secara terang-terangan menolak kehadiran Wamenaker ke lingkungan perusahaan tanpa disertai alasan yang kuat dan objektif. Penolakan ini dinilai buruh sebagai bentuk arogansi korporasi terhadap otoritas pengawas ketenagakerjaan negara.

”Kami merasa dikhianati karena kesepakatan dialog sosial yang telah dimediasi oleh kementerian justru dimentahkan begitu saja oleh manajemen. Manajemen secara berani berkirim surat menolak kehadiran Wamenaker datang ke PT Indonesia Epson Industry tanpa sebab alasan yang kuat. Ini membuktikan bahwa janji penyelesaian yang mereka tawarkan selama ini hanya isapan jempol belaka, sedangkan nasib kawan-kawan kami yang di-PHK dan diskorsing dibiarkan tanpa kejelasan,” tegas Abdul Bais dengan raut wajah penuh kekecewaan saat diwawancarai wartawan di area aksi, Rabu (01/07/2026).
Solidaritas gerakan buruh kali ini semakin menguat dengan turunnya jajaran pengurus Federasi Serikat Pekerja Perfilman Indonesia (F-SPPI). Ketua Umum SPPI, Dr. Rizal Djibran, turut turun langsung ke jalan memberikan orasi politik demi mengawal tegaknya hak-hak normatif pekerja. Kehadiran elemen lintas sektor ini menegaskan bahwa dugaan represi terhadap serikat pekerja di PT Indonesia Epson Industry telah menjadi sorotan publik yang luas.

Hingga berita ini diturunkan, ratusan massa aksi masih bertahan di depan gerbang utama pabrik dengan pengawalan ketat aparat keamanan. Sikap tertutup dari jajaran manajemen PT Indonesia Epson Industry yang enggan menemui perwakilan buruh dikhawatirkan dapat memperpanjang eskalasi pemogokan hingga dua hari ke depan, sekaligus memperburuk citra iklim investasi dan kepatuhan ketenagakerjaan di Kabupaten Bekasi.
Sumber: Melaporkan langsung dari Kawasan EJIP Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat

