
KALTIM, The Wasesa News – Kunjungan Danantara ke PHM (PT Pertamina Hulu Mahakam) di Lapangan Senipah Peciko South Mahakam (SPS), Kalimantan Timur, resmi digelar sebagai langkah strategis dalam memperkuat sinergi pemangku kepentingan untuk menjaga keberlanjutan produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional. Agenda kunjungan kerja yang berlangsung pada akhir Juni lalu dan dirilis di Tangerang pada Rabu (08/07/2026) ini dipimpin langsung oleh Komisaris Utama Danantara Asset Management (DAM), Rabin Indrajad Hattari, bersama jajaran dewan komisaris dan direksi DAM. Peninjauan langsung ini difokuskan pada fungsi pengawasan struktural serta optimalisasi tata kelola operasi hulu migas di Wilayah Kerja (WK) Mahakam demi menopang ketahanan energi nasional secara berkelanjutan.
Dalam menyambut rombongan otoritas manajemen aset negara tersebut, General Manager PHM Setyo Sapto Edi memaparkan profil menyeluruh korporasi, capaian operasional terkini, serta peran vital PHM sebagai salah satu kontributor utama produksi migas nasional. Otoritas PHM juga membeberkan berbagai langkah taktis penanganan lapangan kerja hulu, mulai dari peningkatan efisiensi operasi, penguatan aspek keselamatan kerja (safety), hingga kepatuhan mutlak terhadap regulasi lingkungan hidup, termasuk dalam eksekusi kegiatan pengeboran sumur-sumur baru secara masif.
Mengawal keberlanjutan bisnis hulu migas di tengah dinamika ekonomi global menuntut penerapan strategi yang presisi dan adaptif. Direktur Utama PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), Sunaryanto, menjelaskan bahwa korporasi saat ini menerapkan dua pilar strategi utama dalam menakhodai Regional Kalimantan, yakni investasi selektif (selective investment) dan efisiensi biaya (cost efficiency). Langkah ini diambil mengingat karakteristik industri hulu migas merupakan sektor komoditas yang tidak dapat diperbarui (non-renewable), sehingga faktor keekonomian setiap proyek harus dihitung secara cermat demi memberikan nilai tambah bagi keuangan negara.
”Bisnis yang dikelola PHI Regional Kalimantan merupakan non-renewable business. Karena itu kami harus memastikan setiap investasi dan operasi tetap memberikan nilai tambah bagi negara sekaligus mendukung ketahanan energi nasional,” jelas Direktur Utama PHI Sunaryanto mengenai landasan kebijakan investasi korporasi.
Di sisi lain, tantangan teknis operasional di lapangan tidaklah mudah mengingat mayoritas blok migas di kawasan Mahakam telah beroperasi selama puluhan tahun. Direktur Pengembangan dan Produksi PT Pertamina Hulu Energi (PHE) selaku Subholding Upstream, Mery Luciawaty, mengungkapkan bahwa sebagian besar aset produksi PHM saat ini telah memasuki fase lapangan tua (mature field). Kondisi tersebut menuntut kesiapan teknologi dan strategi pengelolaan yang jauh lebih adaptif guna menekan laju penurunan produksi alamiah sekaligus memperpanjang umur keekonomian fasilitas penunjang yang ada.
”Tantangan utama kami adalah menjaga integritas aset karena sebagian besar fasilitas produksi telah memasuki fase mature. Kami terus melakukan revitalisasi sumur dan fasilitas penunjang agar operasi tetap andal, aman, dan berkelanjutan,” tutur Mery Luciawaty memaparkan langkah mitigasi teknis di lapangan.
Merespons paparan tersebut, Komisaris Utama DAM Rabin Indrajad Hattari menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari pelaksanaan fungsi pengawasan untuk memastikan aset energi nasional dikelola secara efektif dan efisien. Penguatan tata kelola di sektor hulu migas menjadi motor penggerak penting dalam memaksimalkan kontribusi penerimaan negara, sekaligus menjadi instrumen utama untuk menyukseskan target Asta Cita Presiden Republik Indonesia di bidang swasembada dan kemandirian energi nasional.
”Kami melihat bagaimana Pertamina melalui Subholding Upstream mengelola operasi migas secara efektif dan efisien sehingga mampu memaksimalkan kontribusi bagi negara dalam mendukung ketahanan energi nasional,” papar Rabin Indrajad Hattari mengapresiasi performa operasional PHM.
Rangkaian kunjungan kerja ditutup dengan peninjauan langsung ke sejumlah fasilitas pemrosesan utama di Lapangan SPS guna melihat alur produksi minyak dan gas bumi secara riil yang menjadi penopang pasokan energi domestik. Sebagai anak perusahaan PHI di Zona 8, PHM berkomitmen untuk terus mengembangkan inovasi teknologi dan integrasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Di bawah koordinasi SKK Migas selaku wakil pemerintah, sinergi ini diarahkan untuk menghasilkan kegiatan operasi migas yang aman, andal, patuh regulasi, serta ramah lingkungan.
Sumber: Biro Hubungan Masyarakat PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM)




