
HONOLULU, The Wasesa News – Guna memperkuat diplomasi maritim dan membahas masa depan operasi amfibi, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) aktif berpartisipasi dalam Pacific Amphibious Leaders Symposium (PALS) 2026 di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat. Forum internasional yang berlangsung dari tanggal 15 hingga 19 Juni 2026 ini memfokuskan pembahasan pada penguatan stabilitas keamanan di kawasan Indo-Pasifik.

Delegasi tingkat tinggi TNI AL dalam forum tahunan tersebut dipimpin langsung oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Edwin. Agenda penting ini juga dihadiri oleh Kepala Staf Korps Marinir Mayor Jenderal TNI Suherlan demi memastikan kesiapan operasional serta penajaman strategi pertahanan maritim nasional.

PALS 2026 diselenggarakan secara resmi oleh U.S. Marine Corps Force Pacific dengan mempertemukan para pemimpin Angkatan Laut, Korps Marinir, serta pemangku kepentingan pertahanan lintas negara. Pertemuan ini menjadi sarana krusial untuk membangun interoperabilitas militer sekaligus bertukar pandangan mengenai dinamika lingkungan strategis global.
Selama simposium berjalan, delegasi TNI AL terlibat intensif dalam berbagai rangkaian kegiatan profesional. Selain menghadiri sesi pleno, para perwira tinggi TNI AL mengikuti diskusi panel khusus, Key Leader Engagement (KLE), serta berbagai forum taktis yang mengkaji isu-isu pertahanan maritim kontemporer secara komprehensif.


Acara bergengsi ini dibuka langsung oleh Commander U.S. Indo-Pacific Command, Admiral Samuel J. Paparo. Dalam pidato pembukaannya, ia menyoroti bagaimana disrupsi teknologi mutakhir telah mengubah lanskap dan karakteristik medan pertempuran modern secara fundamental di tingkat global.
“Hakikat peperangan tetap sama, namun karakter peperangan terus berubah seiring kemajuan teknologi, meningkatnya transparansi medan tempur, perkembangan sistem otonom, serta pemanfaatan kecerdasan buatan dalam operasi militer,” ungkap Admiral Samuel J. Paparo di hadapan para delegasi dunia.
Selain pemanfaatan teknologi, konsep penangkalan (deterrence) dan penjaminan (insurance) turut menjadi perhatian utama dalam diskusi. Pendekatan strategis tersebut dipandang sebagai instrumen vital untuk menjaga stabilitas regional sekaligus memastikan kesiapan kolektif dalam menghadapi potensi krisis di masa depan.


Keikutsertaan aktif ini sejalan dengan kebijakan strategis Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali. Kasal berkomitmen untuk terus memperluas jejaring kemitraan global guna mengakselerasi profesionalisme serta memperkaya pengetahuan prajurit melalui pertukaran pengalaman dengan negara-negara sahabat.
Sumber: Dinas Penerangan Angkatan Laut (Dispenal)






