
HALMAHERA UTARA, The Wasesa News – Ketua KONI Halmahera Tengah protes wasit secara agresif di tengah arena akibat dugaan kuat adanya skandal manipulasi nilai yang mencederai sportivitas Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) V Maluku Utara di Kabupaten Halmahera Utara, Sabtu (13/06/2026) malam. Langkah konfrontatif Dr. Ir. Ikram Malan Sangadji, M.Si., yang bertindak sebagai Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Halmahera Tengah ini, dipicu oleh bobroknya keputusan pengadil lapangan yang secara terang-terangan merampas hak kemenangan atlet daerahnya di depan ratusan pasang mata penonton.
​Kehadiran Ikram yang langsung menerobos protokoler dan melabrak meja dewan juri seketika membongkar borok profesionalisme perangkat pertandingan pencak silat di ajang dua tahunan tersebut. Suasana gedung olahraga mendadak mencekam saat ia melayangkan kritik tajam terhadap akumulasi poin siluman yang dinilai sengaja direkayasa untuk memenangkan salah satu kontestan secara tidak sah. Protes keras ini bukan sekadar luapan emosi sesaat, melainkan bentuk perlawanan terhadap matinya keadilan di atas matras kompetisi resmi.
​Ikram menegaskan bahwa integritas juri yang korup secara sistematis telah membunuh motivasi dan menghancurkan mental bertanding generasi muda Maluku Utara. Bagi KONI Halteng, membiarkan keputusan wasit yang bias dan tidak kompeten tetap tegak tanpa evaluasi radikal adalah bentuk pembiaran terhadap hancurnya masa depan olahraga prestasi. Ia menuntut pembersihan oknum-oknum pengadil yang tidak profesional demi menyelamatkan marwah pencak silat sebagai warisan budaya bangsa.
​”Kita tidak boleh membiarkan praktik busuk seperti ini merusak mental anak-anak kita yang sudah berjuang berdarah-darah dengan jujur di atas matras. Saya minta ganti pimpinan pertandingan sekarang juga jika tidak mampu memimpin secara adil! Kita di sini ingin melahirkan atlet berprestasi, bukan sandiwara murahan,” tegas Ikram Malan Sangadji dengan nada tinggi di hadapan panitia pelaksana.
Kritik tajam ini juga menyoroti kegagalan panitia besar Porprov V Malut dalam menyaring perangkat pertandingan yang kompeten dan memiliki sertifikasi matang. Ikram menuding juri lapangan mengabaikan regulasi baku Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) demi kepentingan subjektif yang mencederai prinsip fair play. Menurutnya, indikasi pelanggaran teknis penalti dan kontak fisik sengaja dikaburkan oleh kepemimpinan wasit yang tidak rasional.

​”Jangan memanipulasi poin dan jangan memaksa sesuatu yang jelas-jelas menyalahi aturan teknik demi kemenangan pesanan. Saya tahu betul regulasi kompetisi nasional, jadi jangan coba-coba mengelabui dan membodohi kami dengan keputusan sepihak juri di daerah ini,” tambah Ikram tanpa kompromi.
Akibat ketegangan dan kritik bertubi-tubi dari Ketua KONI Halteng, jalannya pertandingan pencak silat kelas tersebut terpaksa dihentikan total karena dewan hakim terpojok dan terpaksa menggelar rapat darurat. Insiden memalukan ini menjadi bukti otentik perlunya reformasi total dalam korps wasit juri Maluku Utara. Publik kini mendesak adanya sanksi blacklist permanen bagi oknum juri yang terbukti menjadi eksekutor kecurangan, agar investasi besar daerah dalam pembinaan atlet tidak menguap sia-sia oleh mafia olahraga.
Sumber: Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Halmahera Tengah





