
JAKARTA, The Wasesa News – Sebuah momentum peradaban yang memadukan kedalaman spiritualitas religius dan ketegasan sikap nasionalisme kebangsaan sukses digelar secara megah di jantung ibu kota metropolitan. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DKI Jakarta berkolaborasi taktis dengan Tiga Jantung Production menggelar pagelaran akbar bertajuk “Konser Musik Mahabbah Allah Pakem 9” yang dihelat di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Jakarta Selatan, Senin (18/05/2026). Pergelaran ini bukan sekadar panggung hiburan biasa, melainkan sebuah ruang refleksi batiniah yang didesain secara khusus untuk mengajak masyarakat memperkuat hubungan vertikal kepada Sang Pencipta sekaligus memupuk komitmen cinta tanah air sebagai pilar utama dalam menghadapi tantangan zaman.
Pagelaran seni kebudayaan yang berlangsung khidmat ini secara struktur dibagi ke dalam tiga babak utama yang saling mengikat esensi satu sama lain. Prosesi acara diawali dengan penyampaian pidato politik kebangsaan yang visioner, dilanjutkan dengan ritual pembacaan doa bersama demi keselamatan bangsa, hingga ditutup oleh puncak acara berupa konser musik sufistik yang berkelas. Melalui akulturasi ciamik antara nilai seni kontemporer dan dogma religi, pergelaran ini mengupas tuntas pesan-pesan filosofis demi memperkuat ketahanan mental dan spiritual bangsa Indonesia di tengah dinamika krisis global serta nasional yang kian kompleks.

Atmosfer di dalam arena Usmar Ismail Hall terasa semakin hidup dan berwibawa berkat kehadiran deretan tokoh nasional, musisi elite, sutradara film, serta para budayawan terkemuka. Tampak hadir di barisan kehormatan, Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Ketua Umum Serikat Pekerja Perfilman Indonesia (SPPI) DR. Rizal Djibran beserta jajaran pengurus pusat, serta budayawan Makara Art Center Universitas Indonesia (UI) DR. Ngatawi Al-Zastrouw. Kemeriahan panggung semakin berenergi dengan hadirnya para maestro petik dawai dan vokal tanah air, seperti Taraz Biztara yang merupakan gitaris T.R.I.A.D, Yoel Perry gitaris NuKLA, serta vokal garang berciri khas dari Baruna Priyotomo eks vokalis Elpamas.

Dalam pidato politik kebangsaannya yang memukau, Menko Kumham Imipas Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra mengingatkan seluruh hadirin akan esensi hakiki manusia sebagai khalifatullah fil ardh yang memikul amanah suci dari Tuhan untuk menjaga kelestarian bumi dan menjauhi segala bentuk kerusakan sistemik. Dirinya menekankan bahwa setiap generasi akan selalu dihadapkan pada tantangan geopolitik zamannya sendiri, termasuk konflik global yang belum berkesudahan seperti tragedi kemanusiaan yang menimpa bangsa Palestina. Menghadapi situasi tersebut, Yusril mengajak publik untuk meneladani prinsip politik bebas-aktif yang diwariskan oleh para pendiri bangsa agar Indonesia tetap kokoh berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus terikat oleh kepentingan poros kekuatan global.
Lebih mendalam, Yusril menyoroti fenomena globalisasi modern yang kerap dijadikan topeng bagi praktik kapitalisme, kolonialisme, dan imperialisme gaya baru. Fenomena tersebut terlihat nyata dari bagaimana kekuatan trans-nasional mengabaikan hukum internasional dan kedaulatan PBB demi menindas pihak yang lemah. Oleh karena itu, ia mengapresiasi tinggi inisiatif seni religius ini sebagai instrumen penggugah nurani kemanusiaan. “Di tengah keprihatinan yang melanda bangsa kita, masih ada orang-orang seperti Pak Saiful dan kawan-kawan yang sangat peduli dengan keadaan ini, dan sesuai kapasitas profesional beliau sebagai seniman, mengungkapkan semua jeritan itu dalam bentuk lagu-lagu indah yang dipersembahkan malam ini,” tutur Yusril.
Sebagai puncak acara, panggung konser diguncang oleh penampilan spektakuler Taraz Biztara, Baruna Priyotomo, dan Yoel Perry yang membawakan aransemen lagu sufistik gubahan Mbah Syaiful Umar dari Tiga Jantung Production. Salah satu lagu andalan yang dibawakan mengisahkan tentang nilai kecintaan dan permohonan ampunan yang tulus kepada Sang Pencipta, yang dibalut apik dengan komposisi distorsi musik modern. Pendekatan kontemporer ini sengaja dipilih agar pesan religiusitas dan nilai ketuhanan dapat lebih mudah diresapi serta tetap relevan dengan realitas kehidupan generasi muda zaman sekarang.

Sementara itu, budayawan DR. Ngatawi Al-Zastrouw membedah filosofi mendalam di balik pagelaran ini, di mana esensi utama dari “Mahabbah Allah Pakem 9” adalah sebuah proses spiritual total menuju cinta yang hakiki kepada Sang Khalik, yang melampaui batas syahwat dan nafsu duniawi manusia. Angka sembilan sendiri melambangkan makam atau tingkatan spiritual tertinggi untuk mengetuk pintu langit melalui untaian nada, zikir, dan munajat doa.
Zastrouw menilai konser kolaboratif ini merupakan bentuk evolusi kebudayaan yang nyata dalam upaya merawat keharmonisan bangsa Indonesia. Tradisi merawat negara yang dahulu dilakukan leluhur melalui mantra, tapa brata, pergelaran wayang kulit, hingga syair puji-pujian, kini bermetamorfosis menjadi karya musik modern yang aktual. “Jadi ini menunjukkan bahwa seni itu menjadi sarana komunikasi yang sangat efektif antara manusia dengan Tuhan dan alam dalam derajat yang paling puncak, yaitu keindahan,” kata DR. Ngatawi Al-Zastrouw saat memberikan keterangan pers secara eksklusif kepada jurnalis The Wasesa News seusai acara.
Sumber: Liputan Eksklusif The Wasesa News di Gedung H. Usmar Ismail





