
JAKARTA, THE WASESA NEWS – Gelora pemberdayaan perempuan dan semangat kemandirian terpancar kuat dari Ruang Serbaguna Masjid Assahara, Jakarta Barat, pada Sabtu (02/05/2026). Dalam sebuah momentum yang sarat dengan nilai-nilai perjuangan gender dan kebangkitan ekonomi, Wali Kota Jakarta Barat, Iin Mutmainnah, secara resmi membuka perhelatan Konferensi Cabang (Konfercab) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Jakarta Barat. Dengan mengusung tema besar “Perempuan Berani, Perempuan Mandiri”, forum tertinggi organisasi di tingkat cabang ini tidak lagi sekadar menjadi agenda rutin birokrasi organisasi, melainkan telah menjelma menjadi panggung strategis untuk mempertegas posisi perempuan sebagai aktor utama dalam pembangunan sosial, ketahanan keluarga, dan pertumbuhan ekonomi di tingkat akar rumput.
[ez-toc]
Suasana di Masjid Assahara dipenuhi antusiasme luar biasa saat ratusan kader Fatayat NU dari berbagai tingkatan anak cabang di wilayah Jakarta Barat memadati lokasi acara. Kehadiran para tokoh penting dalam pembukaan Konfercab ini menunjukkan betapa krusialnya peran Fatayat NU dalam konstelasi pembangunan daerah. Tercatat hadir mendampingi Wali Kota antara lain Plt Asisten Kesra Jakarta Barat, Holi Susanto, Kabag Kesra, Abdurahman Anwar, serta Ketua Tanfidziyah PCNU Jakarta Barat, KH Agus Salam. Kehadiran jajaran pengurus dan kader senior ini memberikan sinyal kuat bahwa penguatan peran perempuan merupakan agenda prioritas yang mendapatkan dukungan penuh dari seluruh stakeholder di wilayah Jakarta Barat.
Dalam pidato sambutannya yang menginspirasi, Wali Kota Iin Mutmainnah secara eksplisit menegaskan bahwa perempuan bukanlah sekadar pelengkap atau pendukung dalam struktur pembangunan nasional. Sebaliknya, perempuan adalah aktor intelektual dan penggerak utama yang memiliki peran sangat krusial, mulai dari membangun benteng pertahanan pertama di tingkat keluarga hingga menjadi motor penggerak kemandirian ekonomi masyarakat. Bagi Iin, keberanian dan kemandirian perempuan adalah kunci untuk menghadapi tantangan zaman yang kian kompleks. “Konferensi ini bukan sekadar agenda rutin organisasi setiap beberapa tahun sekali. Ini adalah momentum besar bagi kita semua untuk memperkuat kembali posisi perempuan sebagai penggerak perubahan sosial yang nyata di tengah masyarakat,” tegas Iin Mutmainnah di hadapan ratusan kader.
Lebih lanjut, Wali Kota juga menyoroti pentingnya keberadaan ruang-ruang organisasi seperti Fatayat NU sebagai wadah inkubasi dan pembinaan bagi perempuan. Di dalam organisasi inilah, kader-kader perempuan ditempa agar menjadi pribadi yang lebih tangguh, memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perubahan teknologi, serta memiliki daya saing yang mumpuni. Fatayat NU diharapkan mampu menjadi jembatan bagi perempuan di Jakarta Barat untuk mengakses berbagai sumber daya pembangunan, sehingga tidak ada lagi perempuan yang merasa terpinggirkan dalam pengambilan keputusan strategis di lingkungan mereka.
Konfercab kali ini pun tidak hanya berisi tentang laporan pertanggungjawaban atau pemilihan ketua baru, namun dihiasi dengan berbagai gebrakan program nyata yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat. Sejumlah program pemberdayaan strategis resmi diluncurkan sebagai wujud implementasi dari tema kemandirian. Program tersebut meliputi pengukuhan 10 Duta Permata Beta, peluncuran 9 Majelis Taklim Fatimatuzzahra, hingga penyerahan sertifikat halal secara simbolis kepada 15 pelaku UMKM binaan Fatayat NU Jakarta Barat. Kehadiran bazar UMKM yang memamerkan produk-produk unggulan karya kader perempuan di area masjid semakin menghidupkan suasana, membuktikan bahwa kreativitas dan produktivitas perempuan Nahdliyin mampu bersaing di pasar ekonomi.
Senada dengan Wali Kota, Ketua Tanfidziyah PCNU Jakarta Barat, KH Agus Salam, memberikan pandangan mendalam mengenai filosofi kepemimpinan perempuan. Menurutnya, perempuan memiliki keunggulan komparatif berupa kepekaan intuitif dan kekuatan rasa yang sangat dalam. Jika modal sosial tersebut dipadukan dengan penguasaan ilmu pengetahuan serta adab yang luhur, maka perempuan akan menjadi kekuatan kepemimpinan yang luar biasa dahsyat. “Perempuan punya modal sosial yang luar biasa besar melalui jaringan kekeluargaan dan kemasyarakatan. Ketika potensi itu dikelola dengan manajemen organisasi yang baik seperti di Fatayat, dampaknya akan sangat dirasakan oleh masyarakat luas,” ujar KH Agus Salam memberikan apresiasi.
Dinamika intelektual dalam Konfercab ini pun semakin terasa dengan hadirnya diskusi inspiratif yang menghadirkan tokoh-tokoh lintas sektoral. Anggota DPR RI, Erwin Aksa, dan Kepala Kantor BPN, Sinta Purwitasari, hadir sebagai narasumber untuk memperluas perspektif para kader. Diskusi tersebut membahas berbagai isu fundamental, mulai dari peran perempuan dalam kebijakan publik, akses kepemilikan aset, hingga strategi penguatan ekonomi di era digital. Ketua Fatayat NU Jakarta Barat, Nurlaela, menjelaskan bahwa pelibatan tokoh-tokoh nasional ini sengaja dilakukan agar para kader memiliki pandangan yang lebih luas, tidak hanya terjebak dalam urusan internal organisasi, tetapi juga mampu menjawab tantangan global.
“Empat program strategis yang kami luncurkan hari ini, mulai dari duta kesehatan hingga pendampingan sertifikasi halal, adalah langkah konkret kami untuk memperluas jangkauan pemberdayaan perempuan di seluruh wilayah Jakarta Barat. Kami ingin menunjukkan bahwa Fatayat NU hadir dengan solusi,” jelas Nurlaela. Partisipasi sekitar 200 peserta dalam forum ini menjadi bukti sahih bahwa perempuan Jakarta Barat semakin sadar akan pentingnya mengambil peran dalam menjawab tantangan pembangunan di tingkat lokal.
Konfercab Fatayat NU Jakarta Barat tahun ini pada akhirnya menjadi simbol kebangkitan kolektif perempuan. Kegiatan ini mengirimkan pesan kuat kepada publik bahwa keberanian dan kemandirian bukan lagi sekadar slogan hiasan pada spanduk acara, melainkan sebuah gerakan nyata yang terus tumbuh dan mengakar dari komunitas bawah. Dengan semangat yang dihasilkan dari forum ini, diharapkan lahir pemimpin-pemimpin perempuan baru yang mampu membawa perubahan positif bagi Jakarta Barat, memperkokoh ketahanan bangsa dari unit terkecil, dan memastikan bahwa suara perempuan tetap menjadi bagian tak terpisahkan dalam setiap kebijakan pembangunan masa depan.







