PAPUA, The Wasesa News – Tragedi kemanusiaan kembali menyayat hati di wilayah pegunungan Papua Tengah, di mana warga sipil yang tidak berdosa harus menjadi sasaran kekerasan bersenjata. Suasana pagi yang biasanya tenang dan damai di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, mendadak berubah menjadi mencekam ketika rentetan tembakan terdengar memecah kesunyian. Tiga warga Orang Asli Papua (OAP), yang terdiri dari seorang perempuan dewasa dan dua anak-anak, dilaporkan menjadi korban luka akibat serangan brutal kelompok bersenjata. Beruntung, berkat koordinasi cepat dan solidaritas yang tinggi, langkah TNI Evakuasi Korban Penembakan OPM Sinak berhasil dilakukan dengan selamat. Proses evakuasi yang dramatis ini memperlihatkan betapa kuatnya ikatan kemanunggalan antara TNI dan rakyat di tengah ancaman teror yang dilakukan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) di wilayah pedalaman.

Peristiwa pilu ini terjadi pada Rabu, 15 April 2026, di mana para korban ditemukan dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Informasi mengenai keberadaan korban luka pertama kali mencuat dari warga Kampung Tirineri, Distrik Yambi. Kepala suku setempat, Dianus Enumbi, yang tengah memantau situasi wilayahnya menemukan ketiga korban tersebut sedang berlindung di sebuah honai milik Gerson Telenggeng. Kondisi korban sangat lemah dengan luka tembak yang mengucurkan darah, hasil dari serangan sporadis kelompok OPM pimpinan Lekagak Talenggeng. Menyadari nyawa warganya dalam ancaman besar, Dianus segera mengambil langkah berani dengan menembus zona rawan guna mencari pertolongan kepada pihak keamanan.
Dianus Enumbi melaporkan kejadian tersebut kepada aparat TNI di wilayah setempat dengan harapan besar agar para korban segera mendapatkan penanganan medis spesialis. “Beberapa warga dari Sinak mengalami luka serius akibat tembakan dan saat ini mereka sedang bertahan dalam kondisi darurat di Kampung Tirineri. Kami sangat berharap pihak TNI dapat membantu mengevakuasi mereka secepat mungkin ke Rumah Sakit Mulia, karena peralatan di sini sangat terbatas dan luka anak-anak itu harus segera ditangani,” ujar Dianus dengan nada penuh kecemasan. Laporan dari tokoh adat ini menjadi pemantik bagi aparat keamanan untuk segera menggelar operasi kemanusiaan di tengah risiko gangguan keamanan yang masih tinggi di jalur evakuasi.

Menanggapi laporan yang sangat mendesak tersebut, Tim Pengamanan Satgas TNI Kewilayahan bergerak cepat membentuk tim evakuasi medis. Mengingat medan Papua yang ekstrem dan status wilayah yang rawan, tim bergerak dengan kewaspadaan penuh namun tetap mengedepankan kecepatan. Setibanya di lokasi honai tempat korban berlindung, tenaga kesehatan dari Yonif 743/PSY langsung bertindak sigap melakukan tindakan triage. Secara profesional, tim medis militer ini memberikan pertolongan pertama (first aid) untuk menstabilkan kondisi korban. Luka-luka tembak dibersihkan dengan peralatan steril, dibalut secara darurat untuk menghentikan pendarahan hebat, terutama pada dua korban anak-anak yang tampak sangat trauma akibat peristiwa tersebut.
Proses penanganan darurat di lapangan ini dilakukan secara gotong royong, di mana warga sekitar dan tokoh adat turut membantu menyediakan air bersih serta menenangkan psikologis korban. Solidaritas yang tercipta di tengah situasi sulit ini menjadi bukti nyata bahwa masyarakat lokal sangat mendambakan kedamaian dan merasa aman di bawah perlindungan TNI. Sementara tim medis bekerja, koordinasi lintas instansi terus dilakukan. Tak lama berselang, ambulans dari Palang Merah Indonesia (PMI) bergerak menuju titik jemput terdekat untuk menjamin proses evakuasi lanjutan ke fasilitas kesehatan yang memiliki peralatan lebih memadai untuk tindakan pembedahan atau pencabutan proyektil jika diperlukan.

Kapen Koops TNI Habema, Letkol Inf Wirya Arthadiguna, dalam rilis resminya menyampaikan bahwa keberhasilan langkah TNI Evakuasi Korban Penembakan OPM Sinak ini merupakan hasil kolaborasi intensif antara berbagai pihak. Pihaknya terus menjalin komunikasi dengan aparat kampung, tokoh adat, PMI, serta Kodim 1714/Puncak Jaya guna memastikan jalur evakuasi bebas dari gangguan kelompok bersenjata hingga para korban tiba di RS Mulia. “Fokus utama dan prioritas tertinggi kami saat ini adalah keselamatan nyawa dan penanganan medis maksimal bagi para korban. Kami tidak akan membiarkan warga sipil, apalagi perempuan dan anak-anak, menderita akibat tindakan biadab kelompok kriminal tersebut,” tegas Letkol Inf Wirya dengan penuh wibawa.
Kekerasan yang dilakukan oleh kelompok Lekagak Talenggeng ini menambah catatan hitam pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan OPM terhadap bangsa mereka sendiri. Hingga kini, personel intelijen dan teritorial TNI masih terus melakukan pendalaman di lapangan dengan mengumpulkan berbagai keterangan dari para saksi serta korban yang mulai stabil. Investigasi ini bertujuan untuk mengungkap motif di balik penyerangan terhadap warga sipil di Distrik Sinak dan untuk memetakan arah pelarian kelompok pelaku. TNI berkomitmen untuk tetap melakukan pengejaran guna memberikan rasa aman kepada masyarakat di Kabupaten Puncak agar mereka dapat kembali beraktivitas di ladang maupun di honai tanpa rasa takut.
Di tengah suasana duka dan ketegangan ini, dukungan moral dari berbagai elemen masyarakat terus mengalir bagi para korban. Harapan terbesar bagi seluruh rakyat Papua saat ini adalah agar para korban penembakan tersebut segera diberikan kesembuhan total dan dapat kembali ke tengah keluarga mereka. Masyarakat juga mendesak agar situasi keamanan di wilayah Puncak Jaya dan sekitarnya segera kembali kondusif, sehingga pembangunan dan layanan publik dapat berjalan tanpa gangguan teror. Kehadiran TNI melalui Satgas Kewilayahan dan Koops Habema terbukti menjadi benteng terakhir bagi kemanusiaan di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau oleh otoritas sipil lainnya.
Tindakan cepat Satgas Yonif 743/PSY dalam memberikan napas baru bagi para korban luka tembak ini menuai apresiasi luas. Di tengah tantangan geografis pegunungan yang diselimuti kabut dan risiko baku tembak, prajurit TNI menunjukkan bahwa tugas mereka bukan hanya soal mengangkat senjata, tetapi juga soal mengobati luka dan memulihkan harapan. Evakuasi medis ini adalah manifestasi dari kehadiran negara untuk melindungi segenap bangsa, di mana pun mereka berada, tanpa memandang suku maupun status sosial. Kelompok OPM yang mencoba merusak kedamaian Papua dengan darah warga sipil kini harus berhadapan dengan tembok persatuan yang dibangun oleh TNI dan rakyat setempat.
Proses evakuasi dari Kampung Tirineri menuju RS Mulia berjalan dengan pengawalan ketat namun tetap memperhatikan kenyamanan pasien. Setibanya di rumah sakit, tim dokter spesialis telah bersiaga untuk melanjutkan perawatan intensif. Doa bersama juga dipanjatkan oleh warga di berbagai distrik sebagai bentuk solidaritas terhadap sesama anak bangsa yang menjadi korban kekerasan. Melalui peristiwa ini, dunia kembali diingatkan bahwa di balik berita konflik yang sering muncul, terdapat aksi-aksi heroik kemanusiaan yang dijalankan secara senyap namun nyata oleh para prajurit di garda terdepan guna memastikan bendera keadilan tetap berkibar di Tanah Papua.
Sumber: Pen Koops TNI Habema





