DARURAT MORAL DAN EKOLOGI: Hilangnya Kepercayaan, Profanitas Sumpah, dan Wajah Asli Penjajahan Abad Ke-21

banner 468x60

Jakarta,

Ini sebagai sebuah peringatan yang membakar: Kita selalu menjadikan narasi penjajahan Belanda 350 tahun sebagai acuan penderitaan. Namun, kenyataan hari ini jauh lebih brutal: Belanda, dengan segala kezalimannya, tidak pernah menggunduli gunung kita dengan intensitas kegilaan yang kita saksikan sekarang.

Mereka tidak meracuni urat nadi kehidupan, yakni sungai, hingga menjadi comberan beracun sebangsat yang terjadi setelah kita berteriak Merdeka.

Setelah hampir 80 tahun kita berdiri sebagai bangsa berdaulat, ironi paling menyakitkan adalah: kerusakan yang ditimbulkan anak bangsa sendiri jauh melampaui masa kolonial. Kehancuran ini bukan kebetulan, melainkan kejahatan terstruktur.

Hutan-hutan dijual, tambang-tambang dibuka secara brutal sampai perut bumi benar-benar robek, dan lautan dikeruk tanpa memedulikan nasib nelayan kecil. 

Infrastruktur publik dibangun asal jadi, menjadi proyek mark-up anggaran yang roboh sebelum masa pakainya berakhir.

Kita harus tegaskan: Ini BUKAN salah penjajah masa lalu. Ini sepenuhnya adalah ulah tangan-tangan serakah hari ini.

Saat bencana lingkungan dan sosial terjadi, para korban—rakyat kecil—disuruh sabar dan ikhlas, menanggung akibat dari keserakahan yang terencana.

Sementara itu, para pelaku, yang bersembunyi di kursi empuk kekuasaan, duduk lelap, berdasi, dan kenyang dari setiap rupiah penderitaan bangsa ini.

Kepercayaan kita telah sepenuhnya dikhianati. Bagi rakyat, semua yang menjabat kini telah diragukan integritasnya. Kepentingan diri sendiri, kelompok, dan partai telah menjadi tuhan baru yang menghapus kejujuran.

Bahkan, sumpah pengangkatan, yang seharusnya menjadi amanah sakral di bawah Al-Qur’an atau kitab suci apa pun, telah kehilangan maknanya.

Sumpah itu kini tak lebih dari formalitas, diucapkan bukan untuk mengabdi pada negara dan rakyat, melainkan untuk melanggengkan kepentingan pribadi, partai, atau sekadar membalas jasa bagi para penjilat. Sumpah suci telah diprofanasi demi kekuasaan kotor.

Mereka adalah para munafik yang berteriak paling lantang tentang Nasionalisme dan Cinta Tanah Air sambil secara aktif menelanjangi dan menjual tanah air mereka sendiri.

Slogan mereka hanyalah topeng tebal untuk menutupi kejahatan yang mereka lakukan.

Penjajah sejati adalah para pengkhianat bangsa yang bersembunyi di balik jabatan, memakai pakaian resmi, dan memakan setiap jengkal kekayaan negerinya sendiri.

Kita harus mengakhiri era penjajahan berwajah domestik ini. Ini bukan lagi soal fisik, tapi soal moral.

Tuntutan kita adalah keadilan, akuntabilitas, dan pemulihan sakralitas jabatan. Jika kita tidak berani menuntut kembali kedaulatan moral dan alam kita sekarang, maka kita akan mewariskan kehancuran total kepada generasi yang akan datang!

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *