JAKARTA,
Perubahan peradaban yang ditandai dengan akselerasi teknologi dan pergeseran persepsi waktu kini menjadi sorotan utama dalam refleksi kehidupan beragama.
Fenomena di mana waktu terasa berjalan jauh lebih cepat dan kemudahan akses pasar digital yang tanpa batas, bukan sekadar pergeseran sosiologis, melainkan merupakan perwujudan dari nubuat kenabian yang menuntut kewaspadaan tinggi bagi setiap individu.
Dalam sebuah pesan fundamental Ustad Adi Hidayat terkait situasi terkini, ditekankan bahwa dunia telah memasuki era yang sangat berbeda.
Secara tekstual, hadis Rasulullah SAW telah memperingatkan akan datangnya suatu masa di mana setahun terasa seperti sebulan, sebulan terasa seperti sepekan, dan sehari terasa hanya seperti sekejap.
Kondisi ini diperparah dengan fenomena pasar yang sangat mudah diakses hanya melalui genggaman tangan (ponsel pintar), yang secara nyata telah terjadi di tengah masyarakat modern saat ini.
Ancaman Disrupsi Sosial
Seiring dengan hadirnya dua tanda tersebut, tantangan sosial diprediksi akan semakin masif.Masyarakat diingatkan untuk mewaspadai meningkatnya praktik manipulasi, penyebaran informasi palsu (hoaks), serta fitnah yang merambah ke berbagai sektor, mulai dari lingkup terkecil yakni rumah tangga, institusi pendidikan, hingga tatanan kehidupan global. Di tengah ketidakpastian moral ini, integritas pribadi menjadi pertaruhan utama.
Dua Pilar Penyelamat
Menghadapi era yang penuh dengan distorsi ini, umat Muslim diinstruksikan untuk memegang teguh dua amalan kunci sebagai bentuk perlindungan diri:– Konsistensi Ibadah Shalat: Menjaga shalat lima waktu tanpa kompromi sebagai fondasi utama dalam menjaga kejernihan hati dan pikiran dari pengaruh eksternal yang negatif.
– Dzikir Mengingat Kematian: Senantiasa mengupayakan kesadaran akan wafat sebagai pengingat bahwa kehidupan dunia bersifat sementara. Hal ini bertujuan agar setiap tindakan tetap selaras dengan nilai-nilai ketuhanan.
Akhirnya, marilah kita sejenak berhenti dari hiruk-pikuk dunia yang kian cepat ini untuk merenungi arah perjalanan spiritual kita.
Selagi napas masih dikandung badan, mari kita perkuat kembali ikatan kita dengan Allah SWT melalui shalat yang terjaga dan zikir yang istiqamah.
Ingatlah wahai saudara seiman, kemenangan sejati bukanlah terletak pada seberapa cepat kita mengikuti zaman, melainkan seberapa siap kita saat waktu kepulangan itu tiba.
Sumber : Ustad Adi Hidayat




