Tragedi Kemiskinan Anak Bangsa: Refleksi Kritis Tata Kelola Negara

banner 468x60

JAKARTA,

Dalam Forum Diskusi Nasional Kebangsaan bertajuk “Bela Negara, Pancasila, dan UUD 1945” yang digelar di Graha GAKORPAN, Cirendeu, Minggu (08/02/2026), Dr. Bernard (GAKORPAN) menyampaikan kritik tajam terhadap ketimpangan tata kelola negara.

Ia menyoroti tragedi kemanusiaan memilukan yang merenggut nyawa dua anak bangsa akibat kemiskinan kronis di tengah klaim kemakmuran negeri.

Potret Buram di Awal Februari

​Dua peristiwa tragis menjadi tamparan keras bagi pemerintah pusat maupun daerah. Di Kabupaten Ngada, NTT, seorang anak berusia 10 tahun, YHS, mengakhiri hidupnya karena himpitan ekonomi.

Ia merasa tertekan saat sang ibu tidak mampu memberikan uang senilai Rp10.000 untuk membeli buku dan alat tulis sekolah.

Kepergiannya meninggalkan pesan mendalam agar sang ibu tidak lagi merasa susah, sebuah ironi besar bagi negara yang menjamin hak pendidikan warga negaranya.

​Tragedi kedua menimpa Najwa (8 tahun), yang kehilangan nyawa akibat terlindas truk kontainer saat berjualan tisu di lampu merah.

Langkah itu ia ambil demi mendapatkan uang untuk membeli beras setelah mendapati ibunya tidak memiliki apa pun untuk dimakan.

Najwa meninggal saat berjuang melawan rasa lapar, membawa serta mimpinya untuk bersekolah tinggi dan membelikan rumah bagi sang ibu.

Paradoks Kekayaan Alam dan Kemiskinan

​Dr. Bernard menegaskan bahwa kedua bocah tersebut adalah martir dari buruknya distribusi kesejahteraan.

Di tengah kekayaan sumber daya alam yang melimpah—mulai dari nikel, migas, hingga CPO—rakyat kecil justru bertarung nyawa demi sesuap nasi dan alat tulis.

​”Ini adalah potret buram wajah kemiskinan di tengah maraknya korupsi sistemik dan gaya hidup glamor pejabat yang abai terhadap empati sosial,” tegas Dr. Bernard.

Ia menyoroti bagaimana eksploitasi alam yang masif sering kali hanya memperkaya segelintir oligarki dan kroni, sementara rakyat jelata tetap berada dalam kondisi papa.

​Tragedi ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen bangsa bahwa visi Indonesia Emas 2045 tidak akan pernah tercapai selama kemiskinan ekstrem masih memakan korban jiwa.

Perbaikan tata kelola dan keberpihakan nyata kepada rakyat kecil adalah harga mati untuk menjaga kedaulatan NKRI.

Salam GAKORPAN – Asta Cita.

banner 300x250
banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *