Oleh: Redaksi Jurnal Spiritual
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang kian bising, seringkali kita terjebak dalam rutinitas ibadah yang terasa hampa, seolah hanya sebuah kewajiban tanpa nyawa.
Namun, sebuah pesan mendalam yang tersirat dari balik sosok bersahaja ini mengajak kita untuk berhenti sejenak dan melakukan “Ngaji Diri”—sebuah perjalanan pulang ke dalam batin untuk menemukan hakikat hubungan kita dengan Sang Pencipta.
Melalui narasi yang menggugah, kita diingatkan bahwa perjalanan spiritual manusia bukanlah sebuah garis tunggal, melainkan sebuah proses pendewasaan yang berlapis.
Dimulai dari Syariat, di mana tubuh kita belajar untuk membenahi diri melalui aturan dan disiplin fisik. Namun, Syariat tanpa kedalaman akan terasa kosong.
Maka, hadirlah Tarekat, sebuah jalan yang melatih hati untuk mengenali jati diri.
Dari sana, kita mendaki menuju Hakikat, fase di mana jiwa belajar untuk berserah diri sepenuhnya, melepaskan ego yang selama ini membelenggu.
Puncaknya adalah Makrifat, sebuah kondisi di mana rasa telah menyatu dalam pengenalan sejati akan Tuhan, meruntuhkan segala penghalang antara hamba dan Sang Khalik.
Pesan ini menjadi pengingat bagi kita semua: apakah ibadah kita selama ini sudah melampaui gerakan fisik? Ataukah kita masih menyembah “kekosongan” tanpa benar-benar mengenal siapa yang kita sembah?
Mari kita kembali menata langkah. Mari menghidupkan rasa di dalam hati, agar ibadah bukan lagi sekadar gugur kewajiban, melainkan sebuah pertemuan cinta yang tak terhalang.
Karena pada akhirnya, perjalanan terjauh manusia bukanlah tentang seberapa jauh ia melangkah di bumi, melainkan seberapa dalam ia mampu menyelami jiwanya sendiri.


