JAKARTA,
Dinamika internal raksasa properti PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) tengah menjadi sorotan tajam. Secara mengejutkan, nakhoda utama perseroan, Marlo Budiman, resmi menanggalkan jabatannya sebagai Presiden Direktur.
Langkah ini kian krusial lantaran diikuti oleh mundurnya tokoh senior, Kartini Sjahrir, dari kursi Komisaris Independen di hari yang sama.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis Senin (2/2/2026), manajemen mengonfirmasi telah menerima surat pengunduran diri keduanya pada 30 Januari 2026.
Meski terjadi perombakan di level elit, Corporate Secretary LPKR, Ratih Safitri, menegaskan bahwa operasional dan stabilitas keuangan perusahaan tetap terjaga.
”Perseroan memastikan tidak ada dampak material terhadap kelangsungan usaha maupun kondisi hukum perusahaan atas pengunduran diri ini,” jelas Ratih dalam keterangan resminya.
Sinyal di Balik Meja Redaksi
Keputusan ini memicu pertanyaan di kalangan investor, mengingat kedua figur tersebut memiliki peran strategis dalam tata kelola perusahaan di bawah kendali James T. Riady.
Rencana pengesahan pengunduran diri ini akan segera dibawa ke meja Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Reaksi Pasar: Saham LPKR Terkoreksi Tajam
Kabar hengkangnya para petinggi ini tampaknya langsung direspons negatif oleh pasar. Pada perdagangan hari ini, harga saham LPKR tersungkur 6,19% ke level 91.
Jika ditarik dalam garis waktu sepekan terakhir, emiten properti ini telah kehilangan nilai sebesar 22,22%, sebuah volatilitas yang cukup kontras mengingat performa year-to-date (ytd) yang sebenarnya masih mencatatkan pertumbuhan 7,06%.
Kini, perhatian pasar tertuju pada siapa sosok yang akan menambal kekosongan kursi kepemimpinan tersebut untuk menjaga kepercayaan para pemegang saham, termasuk entitas besar seperti Sierra Inc. dan PT Primantara Utama Sejahtera yang memiliki porsi kepemilikan signifikan.


