JAKARTA,
Jagat digital Indonesia kembali diguncang oleh pernyataan provokatif dari kelompok peretas yang mengatasnamakan Anonymous Indonesia. Melalui unggahan akun Ghost_root_ pada Sabtu (24/01), kelompok ini memecah kesunyian dengan sebuah pengakuan mengejutkan: gangguan masif jaringan internet nasional beberapa hari terakhir bukanlah kendala teknis biasa, melainkan bagian dari serangan siber terkoordinasi berskala tinggi.
Dalam sebuah pesan video yang sarat akan istilah teknis, Anonymous Indonesia mengungkapkan bahwa infrastruktur digital nasional hampir saja mengalami keruntuhan total. Mereka menyebut insiden ini sebagai “Cyberwar” yang menargetkan jantung konektivitas Indonesia.
Kronologi Klaim Serangan ‘One Dark System’
Berdasarkan narasi dalam video tersebut, Anonymous Indonesia menuding kelompok peretas bayangan asal Filipina, “One Dark System”, sebagai otak di balik serangan. Serangan diklaim dimulai sejak Kamis dini hari pukul 02.17 WIB dengan intensitas yang masif.
”Server dibombardir lebih dari 80 juta permintaan (request) per detik. Firewall runtuh satu per satu, dan node komunikasi nasional nyaris offline total,” ungkap narator dalam video tersebut. Mereka merinci penggunaan metode canggih seperti Massive DDoS, Zero-Day Exploit Injection, hingga upaya penanaman logic bomb di server pusat pemerintah. Kelompok ini mengklaim telah melakukan serangan balik (counter-strike) digital selama 47 menit untuk mengamankan kembali jalur internasional Indonesia.
Perspektif Pakar: Antara Fakta dan Retorika Digital
Menanggapi klaim dramatis tersebut, para ahli keamanan siber memberikan pandangan yang lebih terukur guna mengedukasi masyarakat. Dr. Pratama Persadha, Chairman lembaga riset keamanan siber CISSReC, menekankan bahwa dalam dunia siber, atribusi atau penentuan pelaku serangan tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat tanpa bukti forensik yang kuat.
”Masyarakat perlu berhati-hati dalam menyerap informasi sepihak. Gangguan masif bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kegagalan teknis pada Border Gateway Protocol (BGP) atau kerusakan fisik infrastruktur bawah laut,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa klaim intervensi pihak luar ke dalam sistem ISP nasional tanpa kewenangan legal adalah hal yang sangat kompleks secara prosedur keamanan.
Senada dengan itu, pihak Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menegaskan bahwa pemulihan jaringan yang terjadi adalah hasil mitigasi teknis resmi oleh tim internal penyedia layanan terkait (TelkomGroup) yang dipantau melalui National Security Operation Center.
BSSN mengimbau agar publik tetap merujuk pada keterangan otoritas resmi negara guna menghindari disinformasi yang dapat memicu kepanikan digital.
Edukasi bagi Pengguna Jaringan
Munculnya fenomena “hacktivisme” ini menjadi pengingat penting bagi Indonesia akan kerentanan infrastruktur vital.
Secara profesional, berita ini menggarisbawahi dua hal: pentingnya kedaulatan digital nasional dan perlunya literasi masyarakat dalam membedakan antara gangguan teknis, serangan nyata, dan narasi media sosial.
PENAFIAN: Artikel ini disusun berdasarkan pengumpulan klaim di media sosial dan disandingkan dengan pendapat ahli sebagai bentuk keseimbangan berita. Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Kepolisian maupun ISP terkait mengenai keterlibatan kelompok “One Dark System” maupun Anonymous Indonesia dalam insiden tersebut.

