“TNI Yonif 521/DY Gabung Ritual Bakar Batu Kurima Papua Pegunungan: Binter Jalin Harmoni dan Hargai Budaya Lokal”

“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pembinaan teritorial guna menjaga kemanunggalan TNI dengan rakyat. Selain itu, kehadiran prajurit dalam kegiatan adat juga menjadi bentuk penghormatan terhadap budaya dan kearifan lokal masyarakat Papua.”
– Letkol Inf Rahadyan Surya Murdata, S.E, M.I.P, Komandan Satgas Yonif 521/DY

KURIMA, KABUPATEN YAHUKIMO, PAPUA PEGUNUNGAN

Kehadiran Tentara Nasional Indonesia (TNI) di tengah lapisan masyarakat tidak lagi hanya terfokus pada dimensi pengamanan dan pertahanan wilayah semata. Lebih dari itu, institusi yang dikenal dengan semboyan “Rakyat adalah Tuan Rumah, TNI adalah Pelayan” kini terus membangun kedekatan dan kebersamaan melalui sinergi yang menghargai nilai-nilai lokal. Bukti nyatanya terwujud dalam langkah Satgas Yonif 521/DY “Macan Kumbang” yang aktif menghadiri serta berpartisipasi penuh dalam ritual adat bakar batu bersama masyarakat Distrik Kurima, Kabupaten Yahukimo, pada tanggal 6 Maret 2025.

Ritual bakar batu bukan sekadar tradisi tahunan yang dilakukan secara rutin oleh masyarakat Papua Pegunungan. Sebagai salah satu bentuk kearifan lokal yang telah ada sejak berabad-abad silam, acara ini menyimpan makna mendalam tentang kebersamaan, rasa syukur terhadap hasil bumi, serta upaya mempererat tali persaudaraan antarwarga. Pada kesempatan kali ini, suasana khidmat dan penuh kehangatan terpancar jelas ketika prajurit Satgas Yonif 521/DY bergandengan tangan dengan tokoh adat, tokoh masyarakat, serta ribuan warga setempat dalam setiap tahapan acara yang dilakukan secara penuh memperhatikan tata cara tradisional.

Dari persiapan bahan hingga proses pembakaran batu yang menjadi inti ritual, seluruh langkah dilakukan secara gotong royong. Prajurit yang biasanya terlihat tangguh dalam seragam kehormatan kini dengan santai mengenakan pakaian adat yang disediakan oleh masyarakat, menunjukkan kedalaman penghormatan terhadap budaya yang mereka hormati. Mereka membantu mengumpulkan kayu bakar, menyiapkan bahan makanan yang akan dimasak dengan metode tradisional di atas batu panas, serta berbagi cerita dengan warga muda tentang makna filosofis di balik setiap tahapan ritual.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pembinaan teritorial guna menjaga kemanunggalan TNI dengan rakyat. Selain itu, kehadiran prajurit dalam kegiatan adat juga menjadi bentuk penghormatan terhadap budaya dan kearifan lokal masyarakat Papua,” ujar Komandan Satgas Yonif 521/DY Letkol Inf Rahadyan Surya Murdata, S.E, M.I.P, dalam sambutannya saat acara memasuki tahap puncak.

Kata Letkol Rahadyan lebih lanjut menjadi bukti bahwa program Pembinaan Teritorial (Binter) yang digulirkan TNI tidak hanya bertujuan untuk menjaga stabilitas keamanan, tetapi juga sebagai sarana komunikasi sosial (Komsos) yang efektif untuk menghapus segala bentuk kesenjangan dan salah paham antara institusi militer dengan masyarakat lokal. Melalui kebersamaan yang terjalin dalam acara adat ini, hubungan antara Satgas Yonif 521/DY dengan warga Kurima semakin terjalin secara harmonis, penuh keakraban, dan didasari oleh rasa saling percaya yang mendalam.

Masyarakat Distrik Kurima pun memberikan sambutan yang luar biasa hangat terhadap kehadiran prajurit TNI dalam kegiatan adat yang sangat mereka hargai ini. Kiai Wenda, salah satu tokoh adat senior di wilayah tersebut, mengakui bahwa kehadiran TNI dalam acara seperti ini memberikan makna tersendiri bagi seluruh masyarakat.

“Kami merasa senang dan bangga karena TNI tidak hanya hadir untuk menjaga keamanan kita sehari-hari, tetapi juga mau ikut merasakan kebersamaan dalam tradisi budaya yang telah kita wariskan dari leluhur. Ini menunjukkan bahwa TNI benar-benar bagian dari kita,” ucap Kiai Wenda dengan mata yang penuh haru saat melihat prajurit dan warga bersama-sama menikmati hidangan hasil bakar batu.

Tak hanya itu, partisipasi TNI dalam ritual adat ini juga memberikan dampak positif bagi generasi muda di Kurima. Banyak anak muda yang sebelumnya hanya mengetahui TNI sebagai penjaga keamanan, kini melihat sisi lain dari prajurit yang ramah dan menghargai budaya lokal. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan rasa cinta tanah air dan semangat persatuan di kalangan pemuda Papua Pegunungan.

Prosesi ritual bakar batu sendiri dilakukan dengan mengikuti tahapan yang telah ditetapkan oleh adat istiadat. Setelah melakukan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh adat, masyarakat dan prajurit bersama-sama membakar batu besar hingga mencapai suhu yang cukup tinggi. Kemudian, berbagai jenis makanan seperti umbi-umbian, ikan, dan daging dimasak dengan ditempatkan di atas batu panas tersebut, dibungkus dengan daun pisang untuk memberikan aroma dan rasa yang unik.

Setelah makanan matang, seluruh peserta acara berkumpul dalam lingkaran besar untuk bersama-sama menikmati hidangan tersebut. Suasana penuh keceriaan terlihat ketika prajurit dan warga saling berbagi cerita, nyanyian tradisional, serta tarian adat yang menjadi bagian tak terpisahkan dari acara tersebut. Prajurit bahkan diajak untuk belajar menari tarian adat Papua, yang langsung mendapat sambutan riuh dari seluruh hadirin.

Dalam konteks pembangunan dan stabilitas wilayah Papua Pegunungan, kegiatan seperti ini memiliki peran yang sangat penting. Di tengah dinamika yang kompleks, upaya untuk mempererat hubungan antara TNI dan masyarakat menjadi salah satu fondasi utama dalam menciptakan suasana aman, damai, dan penuh persaudaraan. Melalui penghormatan terhadap budaya lokal dan partisipasi aktif dalam kegiatan masyarakat, TNI berhasil membangun citra positif yang tidak hanya berdasarkan peran sebagai pemelihara keamanan, tetapi juga sebagai mitra dalam pembangunan dan pelestarian budaya.

Letkol Inf Rahadyan Surya Murdata menegaskan bahwa upaya seperti ini akan terus dilakukan oleh Satgas Yonif 521/DY di masa mendatang. “Kita akan terus menjaga hubungan baik dengan masyarakat, menghargai setiap budaya dan tradisi yang ada di wilayah tugas kita. Karena hanya dengan kerjasama dan persatuan yang kuat, kita dapat bersama-sama membangun Papua Pegunungan yang lebih baik,” tegasnya.

Masyarakat Kurima juga mengungkapkan harapan bahwa kegiatan seperti ini dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Papua Pegunungan. Menurut mereka, ketika institusi negara dan masyarakat dapat bekerja sama dengan menghargai satu sama lain, maka segala bentuk tantangan yang dihadapi dapat diatasi dengan lebih efektif.

Sebagai penutup acara, seluruh peserta bersama-sama melakukan doa bersama untuk memohon keselamatan, kemakmuran, serta perdamaian bagi seluruh rakyat Indonesia, khususnya untuk wilayah Papua Pegunungan. Prajurit Satgas Yonif 521/DY juga memberikan bantuan berupa bahan makanan dan kebutuhan dasar kepada beberapa keluarga kurang mampu di Distrik Kurima, sebagai bentuk kepedulian yang lebih luas terhadap kesejahteraan masyarakat.

Melalui kegiatan Pembinaan Teritorial yang diwujudkan dalam partisipasi pada ritual adat bakar batu ini, Satgas Yonif 521/DY telah menunjukkan bahwa hubungan antara TNI dan masyarakat bukan hanya sebatas formalitas, tetapi sebuah ikatan yang tumbuh dari rasa saling menghargai dan mencintai tanah air. Hal ini menjadi bukti bahwa upaya untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk dengan menghargai dan melestarikan kekayaan budaya yang dimiliki oleh setiap daerah di Indonesia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!