SINTANG,
Keamanan publik dikorbankan demi keuntungan ilegal. Dugaan praktik lancung penyaluran BBM bersubsidi di SPBU 64.786.12 Tugu BI Sintang akhirnya membuahkan petaka nyata.
Sebuah ledakan api menghanguskan satu unit kendaraan di area pompa, menelanjangi borok manajemen yang selama ini diduga kuat membiarkan pengisian jeriken secara bebas dan ugal-ugalan.
Insiden maut ini terjadi di Jalan Poros Hutan Wisata, Kelurahan Tanjung Puri. Api berkobar hebat saat sebuah sepeda motor jenis Scoopy tengah melakukan pengisian Pertalite langsung ke dalam jeriken.
Dalam sekejap, kendaraan tersebut lumat menjadi kerangka besi, meninggalkan jejak ketakutan bagi warga yang tengah mengantre.
Bukan sekadar isu, bukti pelanggaran terpampang nyata di lokasi kejadian:
– Pengakuan Terbuka: Pemilik kendaraan, seorang pria paruh baya, secara gamblang mengakui di depan kamera bahwa dirinya sedang mengantre menggunakan jeriken—sebuah praktik yang secara tegas dilarang oleh regulasi Pertamina namun tampak menjadi “prosedur standar” di SPBU ini.
– Kelalaian Fatal: Pengelola SPBU diduga membiarkan nosel melayani jeriken dan mobil dengan tangki modifikasi (siluman) secara rutin, yang memicu risiko kebakaran tinggi akibat listrik statis dan uap bensin yang tidak terkendali.
– Pengawasan Mandul: Peristiwa ini memperkuat kecurigaan publik bahwa SPBU 64.786.12 lebih memprioritaskan “mafia jeriken” ketimbang keselamatan masyarakat umum dan distribusi subsidi yang tepat sasaran.
Publik kini menunggu keberanian aparat penegak hukum dan Pertamina Patra Niaga. Insiden ini bukan sekadar kecelakaan kerja,
melainkan dampak sistemik dari pembiaran pelanggaran aturan distribusi BBM subsidi yang sudah berlangsung lama.
Jika tidak ada sanksi berat berupa pencabutan izin operasional, maka keselamatan warga Sintang akan terus berada di ujung tanduk.
“Kebakaran ini adalah peringatan keras. Jangan tunggu jatuh korban jiwa baru aturan ditegakkan. SPBU bukan tempat transaksi ilegal yang bebas dari hukum!”
Hingga saat ini, pihak manajemen SPBU 64.786.12 Tugu BI Sintang masih bungkam seribu bahasa, seolah enggan bertanggung jawab atas kekacauan yang nyaris merenggut nyawa masyarakat tersebut.
Hukum harus tegak, jangan biarkan subsidi rakyat dibakar oleh ketamakan oknum pengelola SPBU yang mengabaikan nyawa demi pundi-pundi rupiah.







