Prajurit Satgas Yonif 123/Rajawali Bersama Tokoh Adat Fayit Lestarikan Budaya Asmat Lewat Pembangunan Rumah Adat Bujang (Jew)

​"Satgas Yonif 123/Rajawali bersinergi dengan tokoh adat Distrik Fayit dalam pembangunan Rumah Adat Bujang (Jew) di Kampung Basim, Asmat. Kegiatan ini menjadi wujud nyata kemanunggalan TNI dalam melestarikan warisan budaya luhur Suku Asmat di wilayah pedalaman Papua Selatan."

FAYIT, The Wasesa News – Semangat kebersamaan dan upaya pelestarian budaya lokal terasa sangat kental menyelimuti Kampung Basim, Distrik Fayit, Kabupaten Asmat, Papua Selatan. Personel dari Pos Fayit Satgas Yonif 123/Rajawali secara aktif bahu-membahu bersama Ketua Adat Kampung Basim dan jajaran Pemerintah Distrik Fayit dalam menyukseskan pembangunan Rumah Adat Bujang atau yang dikenal dengan sebutan “Jew” pada Minggu (29/03/2026).

Prajurit Satgas Yonif 123/Rajawali membantu warga membangun Rumah Adat Jew di Kampung Basim Asmat. - thewasesanews.com

​Rumah adat ini merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas dan tradisi luhur Suku Asmat yang telah diwariskan secara turun-temurun selama berabad-abad. Keterlibatan prajurit Satgas Yonif 123/Rajawali dalam proyek ini bukan sekadar bantuan tenaga fisik, melainkan simbol sinergi antara TNI dan masyarakat adat dalam menjaga kekayaan budaya bangsa di wilayah pedalaman Papua yang sangat eksotis namun penuh tantangan geografis.

​Proyek pembangunan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat ini tidak hanya berfokus pada pendirian fisik sebuah bangunan kayu tradisional, tetapi juga bertujuan untuk menumbuhkan kembali nilai-nilai luhur dan kearifan lokal Suku Asmat di tengah arus modernisasi. Rumah adat bujang (Jew) memiliki makna filosofis yang sangat mendalam bagi struktur sosial masyarakat Asmat, di mana bangunan ini berfungsi sebagai pusat gravitasi kebudayaan.

Prajurit Satgas Yonif 123/Rajawali membantu warga membangun Rumah Adat Jew di Kampung Basim Asmat. - thewasedanews.com

​Jew seringkali menjadi tempat sakral bagi berkumpulnya para pemuda untuk belajar tentang seluk-beluk adat istiadat, filosofi seni ukir yang mendunia, hingga berbagai keterampilan tradisional lainnya yang diperlukan untuk bertahan hidup di alam Papua. Dengan dukungan Satgas Yonif 123/Rajawali, proses konstruksi yang menggunakan material alam ini berjalan dengan penuh semangat gotong royong yang menjadi ciri khas kemanunggalan TNI dengan rakyat.

​Dansatgas Satgas Yonif 123/Rajawali, Letkol Inf Anhar Agil Gunawan, dalam keterangannya menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata kepedulian TNI dalam membantu masyarakat di wilayah pedalaman Papua Selatan agar tetap memiliki kebanggaan terhadap jati diri mereka. Menurutnya, pelestarian rumah adat Jew adalah investasi jangka panjang untuk menjaga stabilitas sosial melalui pendekatan budaya yang persuasif.

​”Kami merasa sangat bangga bisa turut serta secara langsung dalam upaya pelestarian budaya Suku Asmat yang sangat kaya dan unik ini. Ini bukan hanya sekadar tugas kami sebagai aparat kewilayahan dalam pembinaan teritorial, tetapi juga merupakan bentuk penghormatan tertinggi kami terhadap keragaman kekayaan budaya bangsa yang harus terus dipelihara bersama,” ujar Dansatgas Satgas Yonif 123/Rajawali menekankan pentingnya peran TNI dalam aspek non-militer.

Prajurit Satgas Yonif 123/Rajawali membantu warga membangun Rumah Adat Jew di Kampung Basim Asmat. - thewasedanews.com

​Ketua Adat Kampung Basim, Teteh Anton, menyambut baik inisiatif dan dedikasi yang ditunjukkan oleh Satgas Yonif 123/Rajawali serta Pemerintah Distrik Fayit yang telah memberikan perhatian besar pada keberadaan Jew tersebut. Ia mengungkapkan rasa syukur karena bantuan dari para prajurit membuat proses pembangunan yang cukup rumit menjadi lebih ringan dan cepat terselesaikan.

​”Terima kasih banyak kepada bapak-bapak TNI dan pemerintah distrik yang sudah dengan tulus membantu kami mendirikan kembali rumah adat ini. Jew sangat penting bagi masa depan anak-anak muda kami sebagai madrasah budaya untuk belajar dan menjaga tradisi leluhur agar tidak hilang ditelan zaman. Ini adalah warisan yang harus kita jaga bersama dengan sepenuh hati,” tutur Teteh Anton dengan raut wajah penuh haru dan bangga.

​Senada dengan hal tersebut, Kepala Distrik Fayit, Bapak Anton Anaipoor, menambahkan bahwa pembangunan rumah adat Jew ini menjadi simbol persatuan dan sinergi yang harmonis antara TNI, pemerintah daerah, dan otoritas adat setempat. Ia menilai bahwa kehadiran Satgas Yonif 123/Rajawali telah memberikan warna baru dalam pembangunan di Distrik Fayit, di mana pendekatan teritorial dilakukan dengan sangat menyentuh aspek-aspek paling mendasar dari kehidupan warga, yaitu kebudayaan.

Prajurit Satgas Yonif 123/Rajawali membantu warga membangun Rumah Adat Jew di Kampung Basim Asmat. - thewasesanews.com

​Ia berharap kegiatan kolaboratif serupa dapat terus dilakukan dan ditingkatkan di masa mendatang guna memperkuat ikatan sosial antara masyarakat adat dengan aparat negara. Pelestarian warisan budaya Asmat yang telah diakui dunia internasional ini merupakan tanggung jawab kolektif yang membutuhkan konsistensi dari semua pihak agar tetap lestari dan berkembang di tanah Papua.

​Pembangunan rumah adat bujang (Jew) ini tidak hanya sekadar mendirikan tiang dan atap dari daun rumbia, tetapi juga menjadi momentum emas untuk mempererat tali persaudaraan antara prajurit Satgas Yonif 123/Rajawali dengan warga lokal. Kegiatan ini menanamkan rasa bangga yang besar terhadap identitas budaya Suku Asmat, khususnya di kalangan generasi muda yang kini mulai terpapar oleh budaya luar.

​Dengan semangat gotong royong yang menjadi fondasi utama pembangunan ini, Jew diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan budaya yang dinamis dan pusat edukasi adat yang berkelanjutan. Transformasi Jew sebagai laboratorium budaya akan memastikan bahwa seni ukir Asmat yang penuh dengan simbolisme spiritual tetap hidup di jari-jemari para pemuda Kampung Basim melalui bimbingan para tetua adat dan dukungan pengamanan dari aparat kewilayahan.

Prajurit Satgas Yonif 123/Rajawali membantu warga membangun Rumah Adat Jew di Kampung Basim Asmat. - thewasesanews.com

​Secara teknis, keterlibatan personel Satgas Yonif 123/Rajawali dalam pengadaan material kayu dan proses pengerjaan struktur bangunan memberikan efisiensi yang signifikan bagi masyarakat adat. Hubungan yang terjalin selama proses pembangunan ini menciptakan ruang komunikasi sosial yang sangat sehat, di mana prajurit TNI dapat belajar banyak tentang kearifan lokal, sementara masyarakat merasakan kehadiran negara yang peduli akan eksistensi mereka.

​Sinergi ini membuktikan bahwa pembinaan teritorial yang efektif adalah yang mampu beradaptasi dengan adat istiadat setempat dan memberikan manfaat konkret bagi masyarakat. Keberhasilan pembangunan Jew di Kampung Basim ini menjadi standar baru bagi pelaksanaan tugas-tugas kewilayahan di wilayah Papua, di mana pelestarian budaya dijadikan instrumen utama dalam merajut persatuan dan kesatuan bangsa.

​Hingga proses akhir pembangunan, suasana keakraban antara prajurit Macan Kumbang dan warga Distrik Fayit terus terjaga dengan sangat baik. Rumah adat Jew yang kini berdiri megah di Kampung Basim akan menjadi saksi bisu sejarah pengabdian Satgas Yonif 123/Rajawali di tanah Asmat. Ke depannya, diharapkan Jew ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk berbagai upacara adat, diskusi komunitas, hingga pameran hasil karya ukir warga lokal sebagai daya tarik wisata budaya.

​Dukungan terus-menerus terhadap ketahanan budaya adalah bagian dari upaya menjaga kedaulatan NKRI melalui pendekatan kesejahteraan dan identitas nasional. TNI akan selalu siap sedia mendukung setiap langkah masyarakat adat dalam memajukan kebudayaannya, karena kekuatan bangsa Indonesia terletak pada keberagaman yang tetap bersatu dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika di Bumi Cendrawasih.

Autentikasi: Pen Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 123/Rajawali

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!