SANANA, Kepulauan Sula
Dari tanah kelahirannya di Sanana, Kepulauan Sula, Ibu Iramaya Umagapi menjalani perjalanan hidup menuju Desa Aer Salobar, mengikat tali asmara dan membangun fondasi kehidupan bersama suaminya.
Selama bertahun-tahun, mereka berbagi cerita dan menghadapi tantangan di bawah atap rumah yang hanya berdinding papan.
Setiap kali musim hujan tiba, atap yang lapuk tak henti meneteskan air ke dalam ruangan. Malam-malam panjang diisi dengan khawatir mendalam – bukan hanya akan benda-benda yang basah, tetapi juga ketakutan akan kekuatan alam yang bisa saja merobek harapan mereka kapan saja.
Ember-ember penampung air menjadi teman setia di tengah malam, menyimpan setiap tetes yang jatuh sebagai bukti perjuangan sehari-hari.
Namun hari ini, lembaran baru telah terbuka dalam hidup keluarga Iramaya.
Kini, wajah Ibu Iramaya dipenuhi keceriaan yang tulus saat berbicara tentang rumah barunya. Ia bisa tidur dengan tenang, tanpa lagi diganggu bayangan hujan yang akan merusak tempat tinggalnya.
Semua kekhawatiran yang selama ini mengganggu pikirannya kini sirna, digantikan oleh rasa syukur yang mendalam, haru, dan kebahagiaan sederhana yang tak ternilai harganya: memiliki tempat berteduh yang layak untuk keluarga tercinta.
“Terima kasih pak bupati, pak wakil dan pak sekda. Saya sangat bersyukur, semoga kebaikan kalian bernilai ibadah di sisi-Nya,” ucapnya dengan suara yang penuh emosi.
Bagi banyak pihak yang terlibat dalam program ini, kebahagiaan yang dirasakan oleh keluarga Iramaya menjadi pijakan kuat untuk terus bergerak maju.
Karena rumah bukan sekadar sekumpulan bata dan semen yang membentuk bangunan – ia adalah tempat di mana cinta tumbuh, doa terkabulkan, dan benih masa depan disemai dengan penuh harapan.
