JAKARTA,
Di sebuah sudut sederhana di Jalan Melawai, tepatnya di Base Camp Sasana Tinju Nasional Ricky Soares Boxing Camp, Jakarta Selatan, Sabtu (17/1/2026), berlangsung sebuah dialog reflektif mengenai makna kepahlawanan dan iman.
Ricky Soares, sosok yang kerap dijuluki “Pahlawan Tinju yang Terlupakan,” berbagi kisah tentang bagaimana perjuangan sejati selalu dimulai dari titik terendah.
Banyak orang berasumsi bahwa pahlawan besar lahir dari kemewahan atau fasilitas lengkap. Namun, sejarah mencatat bahwa banyak pejuang NKRI justru lahir dari keterbatasan.
Bagi Ricky, kondisi “titik nol”—tanpa harta, jabatan, atau popularitas—bukanlah tanda ketidakberdayaan, melainkan kawah candradimuka untuk menempa empati dan integritas.
“Allah tidak menilai awal perjalanan kita, melainkan bagaimana kita berjuang menghadapi ujian iman, kesabaran, dan ikhtiar untuk menjauhi segala bentuk maksiat maupun premanisme,” ungkap Ricky.
Senada dengan hal tersebut, Bunda Tiur Simamora dalam kesempatan yang sama menekankan bahwa sejarah Islam telah memberikan keteladanan nyata.
Ia mencontohkan Nabi Muhammad Swt yang lahir sebagai yatim, hingga Bilal bin Rabah, seorang budak yang bangkit melalui kekuatan tauhid hingga namanya harum sepanjang sejarah.
Kepahlawanan di Era Modern
Diskusi ini juga menyoroti relevansi menjadi pahlawan di tengah kondisi sosial-ekonomi bangsa saat ini. Menjadi pahlawan tidak selalu berarti berada di medan tempur.
Di era sekarang, peran tersebut dapat diambil oleh:
– Orang tua yang sabar mendidik anak sebagai pahlawan keluarga.
– Guru yang ikhlas berbagi ilmu.
– Generasi muda yang teguh menjaga iman di tengah gempuran fitnah dan ujaran kebencian.
– Individu yang berani bangkit dari kegagalan tanpa mencari pencitraan.
Mengutip Surah Ar-Ra’d ayat 11, Ricky menegaskan bahwa perubahan nasib suatu kaum sangat bergantung pada upaya mereka sendiri.
“Jangan remehkan posisi Anda hari ini. Meski berada di titik nadir, dengan iman dan ikhtiar, Allah mampu menjadikan kita pahlawan di hadapan-Nya,” tegasnya. Acara yang berlangsung khidmat ini ditutup dengan doa oleh Ustaz Abrahim Andy.
Beliau mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus bergerak melakukan kebaikan sekecil apa pun dan menjadikannya sebagai momentum bagi para pahlawan tanpa tanda jasa untuk membangun negeri.







