JAKARTA,
Dr. Bernard BBBBI Siagian, Ketua DPP GAKORPAN LBH Pers Prima Presisi Polri, mengingatkan akan potensi dampak negatif dari perkembangan kondisi pasar minyak dunia terhadap stabilitas energi dan ekonomi Indonesia menjelang Lebaran tahun ini. Menurutnya, dinamika geopolitik global dan kondisi jalur perdagangan minyak internasional menjadi faktor penting yang perlu diantisipasi oleh negara-negara yang bergantung pada impor energi, termasuk Indonesia.
Selat Hormuz, yang menjadi laluan bagi sekitar 20% produksi minyak dunia, merupakan salah satu jalur strategis yang selalu menjadi perhatian global karena dampaknya terhadap pasokan dan harga minyak internasional. Setiap perkembangan yang mengganggu aktivitas perdagangan melalui jalur ini memiliki potensi untuk memengaruhi stabilitas pasar minyak dunia.
“Kondisi pasar minyak dunia sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik di kawasan penghasil minyak utama, termasuk kawasan Timur Tengah. Setiap potensi gangguan pada jalur pengiriman atau pasokan dapat menyebabkan fluktuasi harga yang signifikan, yang kemudian berdampak pada negara-negara importir seperti Indonesia,” ujar Dr. Bernard.
Saat ini, harga minyak dunia berada pada kisaran yang cenderung meningkat, dengan beberapa analis memperkirakan potensi kenaikan lebih lanjut jika kondisi geopolitik menjadi lebih tegang atau terjadi gangguan pada jalur pengiriman utama. Kenaikan harga minyak di pasar global secara langsung akan berdampak pada negara-negara yang bergantung pada impor, termasuk Indonesia yang mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.
Salah satu dampak yang telah terasa adalah kenaikan harga BBM non-subsidi di seluruh Indonesia. Beberapa jenis BBM non-subsidi telah mengalami penyesuaian harga sesuai dengan perkembangan pasar global, sebagai bentuk mekanisme penyesuaian yang berlaku.
Pemerintah Indonesia telah memberikan jaminan bahwa harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar tidak akan dinaikkan setidaknya hingga jelang Hari Raya Idul Fitri tahun ini. Namun, Dr. Bernard mengingatkan bahwa jika harga minyak dunia terus melonjak dalam waktu yang lama, kebijakan subsidi tersebut akan semakin menekan anggaran negara dan berpotensi menyebabkan tekanan yang lebih besar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Anggaran subsidi BBM direncanakan dengan asumsi harga minyak dunia pada tingkat tertentu. Jika harga aktual jauh di atas perkiraan, maka anggaran yang dialokasikan akan tertekan dan berpotensi memengaruhi alokasi anggaran untuk sektor-sektor penting lainnya,” jelasnya.
Kenaikan harga minyak dunia juga berdampak pada inflasi baik di tingkat global maupun nasional. Biaya transportasi dan logistik cenderung meningkat seiring dengan kenaikan harga BBM, yang kemudian berdampak pada harga kebutuhan pokok masyarakat. Jelang Lebaran, di mana kebutuhan akan barang dan jasa biasanya mengalami peningkatan signifikan, kondisi ini berpotensi memperparah beban ekonomi masyarakat.
“Kenaikan biaya logistik akan membuat harga barang dagangan, terutama kebutuhan pokok, menjadi lebih mahal. Ini akan memberikan beban tambahan bagi masyarakat, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah yang sebagian besar pendapatannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari,” tambah Dr. Bernard.
Dia juga menekankan bahwa situasi ini membutuhkan kerja sama yang erat antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk menghadapi tantangan yang muncul. Langkah-langkah antisipatif dari pemerintah, seperti pengelolaan stok energi nasional, diversifikasi sumber energi, serta kebijakan yang mendukung efisiensi penggunaan energi, sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga energi.
Selain itu, penting bagi masyarakat untuk mempersiapkan diri dengan mengelola penggunaan energi secara lebih efisien dan melakukan perencanaan keuangan yang matang menjelang musim libur Lebaran. Kritik dan usulan konstruktif dari berbagai pihak juga sangat dibutuhkan untuk membantu pemerintah dalam mengambil kebijakan yang tepat dan sesuai dengan kondisi aktual.
“Kita tidak boleh hanya fokus pada reaksi terhadap kondisi yang terjadi, tetapi juga perlu melakukan upaya preventif untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan meningkatkan ketahanan energi nasional. Ini adalah investasi jangka panjang yang akan bermanfaat bagi kemajuan dan stabilitas negara,” pungkas Dr. Bernard.
Narasumber : Dr. Bernard BBBBI Siagian (Ketua DPP GAKORPAN LBH Pers Prima Presisi Polri)
