JAKARTA,
Pada hari yang bersamaan dengan perayaan Rabu Abu bagi umat Kristen dan Katolik, serta awal ibadah Teraweh dan puasa bagi umat Islam di Bulan Suci Ramadhan 1417 Hijriah, Dr. Bernard BBBBI Siagian SH.MAkp – yang dikenal sebagai GAKORPAN dari LBH PERS Prima Presisi dan juga bagian dari Gerakan Solidaritas Nasional Untuk Rakyat Bersuara Keadilan Rumah Besar Relawan RPG.08 – mengeluarkan pesan mendalam tentang makna pluralisme dalam konteks perayaan Tahun Baru Imlek oleh masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengangkat tema “GONG XI FA CAI for INDONESIA” sebagai simbol konkret dari prularisme yang hidup di tanah air. Bersama seluruh umat Katolik, Dr. Bernard juga mengingatkan pentingnya ibadah puasa dalam masa Prapaskah, yang bertepatan dengan bulan suci Ramadhan bagi umat Islam.
“Kerukunan umat beragama di Indonesia dalam aspek ibadah lintas agama adalah sumber cinta kasih yang berakar pada Pancasila, UUD 1945, NKRI yang harga mati, serta Bhineka Tunggal Ika,” ujar Dr. Bernard secara tegas.
Menurutnya, esensi heterogenisme dan pluralisme yang pernah dipahami oleh mantan Presiden Gus Dur bukan hanya tentang keberagaman semata, melainkan tentang harmonisasi yang mengakar pada sejarah panjang bangsa Nusantara.
Ia mengingatkan masa penjajahan Belanda melalui Kompeni dan VOC, di mana kemajemukan rakyat Indonesia justru menjadi sumber keterpurukan akibat pola kolonial yang memecah belah.
“Kondisi itu kemudian berubah seiring dengan perjalanan sejarah, termasuk pada masa perang revolusi di sekitar Kampung Sendangsono, Desa Tritis, Yogyakarta, di mana doa khusus dan ibadah lintas agama menjadi bagian dari perjuangan rakyat,” jelasnya.
Dr. Bernard menyoroti bahwa di era reformasi, pernah muncul faham sekuler yang cenderung mempertentangkan aqidah agama, namun kini telah mulai digantikan oleh sikap yang lebih humanis dan penuh taqwa – hasil dari kemurahan dan belas kasih Tuhan.
“Esensi ibadah dari berbagai kebebasan beragama, serta karya amal dan kesolehan masing-masing umat, telah terbentuk selama berabad-abad dan menjadi bagian dari identitas serta cara hidup rakyat Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya saling menghormati antarumat beragama, serta kerja sama yang dinamis dalam mencari identitas hidup dan perkembangan diri bangsa.
Mengutip kata-kata suci Sang Penebus dalam memperingati sengsara Kristus pada Rabu Abu, Dr. Bernard menyampaikan pesan amanah: “Bertobatlah karena kerajaan Surga sudah dekat, percayalah engkau pada Tuhan.”
Di akhir pesannya, ia mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1417 Hijriah, sekaligus memohon maaf lahir dan batin.
“Mari kita sukseskan perjuangan menuju Indonesia Emas 2045 – Macan Asia yang Merdeka!” pungkasnya.
