Bedah Filosofi Puasa: Dari Tradisi Peradaban Hingga Senjata Melawan Korupsi dalam Forum GAKORPAN

JAKARTA,

Di bawah langit Cirendeu yang dibasahi gerimis tipis, sebuah narasi besar tentang kemanusiaan dan kebangsaan digulungkan. Bertempat di Griya GAKORPAN, Jumat (20/2/2026), Dr. Bernard BBBBI Siagian SH. MAkp secara resmi membuka Ajang Seminar Forum Kebangsaan Bela Negara yang digagas oleh DPP GAKORPAN bekerja sama dengan LBH PERS Prima Presisi Polri.

​Acara yang dihadiri lebih dari 500 peserta—mulai dari tokoh nasional, aktivis, mahasiswa, hingga masyarakat umum—ini mengusung tajuk yang provokatif dan mendalam: “Tradisi Evaluasi & Evolusi Puasa Dikaji dalam Sejarah Peradaban.”

Puasa: Antara Memori Meja Makan dan Kontrol Sosial

​Seminar ini diawali dengan potret melankolis namun kuat tentang ritual sahur di pelosok Nusantara. Suara “Saur… Saur!” yang memecah kesunyian pukul 03.25 WIB bukan sekadar alarm biologis, melainkan awal dari sebuah disiplin spiritual. Di balik kepulan asap kompor para ibu dan nasehat bijak seorang ayah, terdapat sebuah kontrol sosial yang hakiki.

​”Puasa adalah pola edukasi bathin yang radikal. Seorang ibu yang memastikan anaknya bangun sahur, sejatinya sedang menanamkan benih Ukhuwah Islamiyah serta Iman dan Taqwa. Ini adalah investasi agar kelak saat orang tua uzur, mereka dijaga oleh anak-anak yang sholeh. Inilah ketahanan nasional yang dimulai dari unit terkecil: keluarga,” ujar narasi dalam diskusi tersebut.

Lintas Peradaban dan Lintas Iman

​Dr. Bernard menekankan bahwa puasa adalah situs tertua dalam sejarah manusia, lahir bahkan sebelum teks-teks teologi dituliskan. Dari tradisi Yom Kippur kaum Yahudi, masa Pra-Paskah umat Kristiani, hari Ekadashi penganut Hindu di India, hingga ritual suku Inca di Amerika dan suku pedalaman Nusantara—semuanya bermuara pada satu titik: memberi jarak pada dorongan lapar untuk menemukan jati diri.

​”Puasa berevolusi dari sekadar takdir biologis akibat paceklik, menjadi tindakan revolusioner spiritual. Ia adalah solusi untuk menjernihkan batin dari polusi keserakahan duniawi,” tegasnya di hadapan ratusan simpatisan Rumah Besar Relawan RPG.08.

Refleksi Kritis: Mengapa Korupsi Masih Merajalela?

​Namun, forum ini tidak hanya berhenti pada romantisasi tradisi. GAKORPAN melontarkan kritik tajam terhadap realitas bangsa. Jika jutaan rakyat Indonesia rutin berpuasa setiap tahun, mengapa praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) serta abuse of power masih menjadi borok yang sulit sembuh?

​”Jangan-jangan kita baru belajar menahan lapar secara fisik, namun gagal menahan lapar akan kekuasaan dan harta. Puasa Ramadhan seharusnya menjadi momentum rekonsiliasi sosial, di mana si kaya merasakan perihnya si miskin, sehingga melahirkan empati yang memutus rantai keserakahan dari hulu hingga ke hilir,” lanjut pembahasan dalam seminar tersebut.

Menuju Indonesia Emas 2045

​Sebagai penutup, Tim Investigasi GAKORPAN melalui forum ini mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menjadikan Ramadhan 1447 Hijriah sebagai ajang perbaikan kualitas iman yang nyata. Bukan sekadar seremonial konsumtif, melainkan langkah konkrit mendukung Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045.

​Puasa yang bermakna adalah puasa yang melahirkan etika moralitas. Hanya dengan manusia-manusia yang mampu berkata “cukup”, Indonesia dapat berdiri tegak sebagai Macan Asia yang merdeka seutuhnya—merdeka dari kemiskinan dan merdeka dari belenggu korupsi.

Bravo GAKORPAN!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!