Hentikan Politisasi 2029: BASIS Desak Elit Fokus Bantu Prabowo-Gibran Tuntaskan Bencana dan Asta Cita

JAKARTA,

Di tengah terjangan gelombang bencana alam dan cuaca ekstrem yang melanda berbagai wilayah di Indonesia, publik justru disuguhkan tontonan politik yang kontradiktif. Para elit politik mulai terlibat “perang dingin” dan manuver dini demi ambisi menuju Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.

​Fenomena ini mendapat sorotan tajam dari Ketua Umum BASIS (Barisan Solidaritas Indonesia), Salianto. Ia menyayangkan sikap para elit partai koalisi yang belakangan ini lebih sibuk mempromosikan kader masing-masing sebagai calon pendamping Presiden Prabowo Subianto di masa depan, ketimbang fokus pada urgensi kerakyatan.

​”Setiap partai memang memiliki hak politik untuk mengusulkan kader terbaiknya. Namun, ada waktu dan tempatnya. Membahas suksesi 2029 di saat rakyat sedang berjuang melawan bencana adalah langkah yang tidak empati,” tegas Salianto.

Fokus pada Asta Cita, Bukan Kursi 2029

​Menurut Salianto, fokus utama seluruh elemen pendukung pemerintah saat ini seharusnya adalah memastikan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berjalan maksimal.

​”Saat ini yang dibutuhkan adalah kerja nyata, bukan bursa nama. Kita punya tanggung jawab moral untuk mensukseskan visi-misi Prabowo-Gibran agar benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat,” lanjutnya.

Rakyat Sedang Berduka, Elit Jangan Berseteru

​Salianto juga menekankan bahwa Indonesia sedang menghadapi tantangan serius berupa bencana alam yang merata di hampir seluruh wilayah. Ia mengingatkan agar perseteruan politik elit tidak sampai mengorbankan kepentingan rakyat kecil yang butuh penanganan cepat.

​Ada tiga poin utama yang ditekankan oleh BASIS:

​1. Tunda Bahasan Pilpres: Pembahasan mengenai pendamping Presiden untuk periode mendatang idealnya baru dimulai pada tahun 2028.

​2. Tunjukkan Kinerja: Elit politik harus membuktikan loyalitas melalui kinerja di kementerian atau lembaga, bukan melalui manuver opini.

​3. Biarkan Rakyat Menilai: Sebagaimana dicontohkan oleh Presiden dan Wakil Presiden saat ini, biarlah publik yang memberikan penilaian objektif berdasarkan hasil kerja nyata di lapangan.

​”Kami menyarankan agar semua pihak berhenti memicu kegaduhan politik. Tunjukkan kepada publik bahwa kita bekerja dengan baik. Jangan sampai ambisi kekuasaan membutakan mata kita terhadap penderitaan rakyat yang saat ini membutuhkan kehadiran negara,” tutup Salianto.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!