Analisis Siswanto Rusdi: Keretakan Diplomasi Indonesia-Iran, Tekanan Washington, dan Kekecewaan Teheran yang Mendalam

​"Iran merasa Indonesia teman baik, tapi teman baik kok seperti ini? Indonesia tidak mengecam pembunuhan anak-anak sekolah yang masih kecil itu. Sebagai negara non-blok, kita seharusnya punya keberanian untuk bersikap tegas tanpa tekanan pihak luar." — Siswanto Rusdi, Direktur NAMARIN.

JAKARTA,

Hubungan bilateral antara Indonesia dan Iran dilaporkan tengah menghadapi ujian paling serius dalam dekade ini. Direktur The National Maritime Institute (NAMARIN), Siswanto Rusdi, mengungkap tabir kekecewaan mendalam Teheran terhadap sikap Jakarta yang dinilai mulai meninggalkan prinsip politik luar negeri bebas aktif demi mendekat ke orbit Amerika Serikat.

​Dalam wawancara eksklusif melalui Forum Keadilan TV, Siswanto Rusdi memaparkan bahwa Iran merasa dikhianati oleh negara yang selama ini dianggap sebagai mitra strategis dan sesama pilar kekuatan Muslim dunia.

Sentimen “Teman Baik” yang Pudar

​Siswanto menjelaskan bahwa ketegangan ini bermula dari persepsi Iran terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Iran menangkap sinyal bahwa Indonesia kini lebih nyaman berada dalam kelompok kepentingan Barat. Hal ini menciptakan hambatan psikologis dan diplomatik bagi Iran untuk menawarkan kerja sama strategis lebih lanjut.

​”Iran itu merasa Indonesia teman baik. Tetapi teman baik kok seperti ini? Terutama melihat kedekatan kita dengan Amerika Serikat belakangan ini. Iran merasa tidak lagi memiliki ruang yang sama di mata Jakarta,” ujar Siswanto. Ia menambahkan bahwa ada semacam “ilusi” di pihak Indonesia yang merasa kehadirannya sangat dibutuhkan oleh Iran, padahal Teheran dikenal sebagai bangsa yang sangat mandiri dan bangga akan kedaulatannya.

Skandal Maritim: Penolakan Kapal Perang di Latihan Komodo

​Salah satu bukti konkret yang disorot Siswanto adalah insiden memilukan pada awal Februari 2025. Saat itu, Indonesia menyelenggarakan Multinational Exercise Komodo, sebuah ajang diplomasi maritim internasional. Iran telah mengirimkan dua kapal perang dari Bandar Abbas setelah mendapatkan lampu hijau dari otoritas Indonesia, mulai dari Kemhan hingga Mabes TNI.

​Namun, di tengah perjalanan, izin tersebut ditarik secara mendadak. “Tiba-tiba, ketika sudah sedikit lagi masuk ke perairan kita, izinnya dicabut. Penolakan ini terjadi karena Presiden Prabowo diduga ditekan oleh Amerika Serikat untuk tidak melibatkan Iran dalam latihan tersebut,” ungkap Siswanto. Sikap tidak konsisten ini menjadi luka diplomatik yang sulit disembuhkan bagi militer Iran.

Keterlambatan Empati dan Sikap Bungkam

​Selain isu militer, Siswanto juga menyoroti aspek kemanusiaan yang memperburuk suasana. Teheran sangat menyayangkan keterlambatan Indonesia dalam menyampaikan ucapan bela sungkawa atas wafatnya pemimpin tertinggi Iran, di saat pemimpin dunia lainnya merespons dengan cepat.

​Lebih jauh, Indonesia dinilai “bungkam” dan tidak tegas mengecam aksi kekerasan yang menelan korban anak-anak sekolah di Iran dalam konflik yang sedang berlangsung. “Indonesia tidak mengecam pembunuhan anak-anak yang masih kecil itu, padahal di forum internasional lain, hal itu dikecam keras oleh banyak negara,” tegas pakar maritim tersebut.

Implikasi Geopolitik di Selat Hormuz

​Kekecewaan ini diprediksi akan berdampak luas pada sektor strategis seperti perdagangan dan energi. Mengingat posisi Iran yang menguasai Selat Hormuz—jalur vital minyak dunia—ketegangan ini bisa merugikan kepentingan nasional Indonesia dalam jangka panjang.

​Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan tajam yang disampaikan oleh Direktur NAMARIN tersebut. Namun, pesan dari Atase Pertahanan Iran di Jakarta sudah cukup jelas: “Indonesia adalah negara non-blok, seharusnya berani bersikap.”

Sumber : Forum Keadilan Tv

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!