Pengungkapan Narkoba 60 Kg di Sintang: Prestasi Besar dan Desakan Bongkar Jaringan Internasional

​“Peredaran narkoba di kalangan remaja dan pelajar merupakan ancaman serius. Zat adiktif ini merusak fisik, mental, hingga masa depan generasi muda. Jika tidak diberantas secara serius, ini akan menjadi bom waktu bagi bangsa,” tegas Bambang Iswanto

SINTANG, The Wasesa News – Komitmen pemberantasan narkotika di wilayah hukum Kalimantan Barat kembali mencatatkan tinta emas. Pengungkapan Narkoba 60 Kg di Sintang oleh Satuan Reserse Narkoba (Sat Resnarkoba) Polres Sintang sukses mengguncang publik sekaligus memberikan pukulan telak bagi sindikat barang haram tersebut. Barang bukti berupa sabu dengan berat bruto mencapai 59,85 kilogram—yang setelah dilakukan penimbangan ulang secara akurat tercatat seberat 57,55 kilogram netto—menjadi salah satu tangkapan terbesar dalam sejarah Kabupaten Sintang selama tujuh tahun terakhir.

​Keberhasilan ini tidak hanya menjadi angka di atas kertas, tetapi merupakan simbol penyelamatan ribuan generasi muda dari jerat zat adiktif yang mematikan. Langkah taktis yang dipimpin oleh Kapolres Sintang, AKBP Sanny Handityo, S.H., S.I.K., bersama Kasat Resnarkoba AKP Eko Supriyatno, langsung menuai gelombang apresiasi dari berbagai elemen masyarakat dan aktivis kemanusiaan di Kalimantan Barat.

Apresiasi dari YLBH GAN-LMRRI: Ancaman Bagi Generasi Muda

Ketua Litbang YLBH GAN-LMRRI Kalbar, Bambang Iswanto, A.Md, memberikan pernyataan tegas mengenai dampak sosial dari peredaran narkotika dalam jumlah fantastis tersebut. Menurutnya, langkah Polres Sintang adalah bukti keseriusan negara dalam menekan peredaran gelap narkoba yang kian agresif mengincar daerah perbatasan.

​“Peredaran narkoba di kalangan remaja dan pelajar merupakan ancaman serius. Zat adiktif ini merusak fisik, mental, hingga masa depan generasi muda. Jika tidak diberantas secara serius, ini akan menjadi bom waktu bagi bangsa,” tegas Bambang Iswanto saat memberikan keterangan kepada tim media. Beliau mengingatkan bahwa narkotika bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan ancaman sistematis yang dapat melumpuhkan potensi sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Desakan Pengembangan Jaringan: Jangan Berhenti di Kurir

​Meski memberikan apresiasi tinggi, para aktivis juga memberikan catatan kritis bagi aparat penegak hukum. Bambang Iswanto menilai bahwa Pengungkapan Narkoba 60 Kg di Sintang ini seharusnya menjadi pintu masuk atau “kotak pandora” untuk membongkar aktor intelektual di balik penyelundupan tersebut. Publik tidak ingin penegakan hukum hanya menyentuh permukaan atau “pelaku lapangan” semata.

​“Pengungkapan ini harus dikembangkan lebih jauh. Siapa pemilik barang, siapa pengendali jaringan, dan dari mana jalur distribusinya. Jangan sampai yang tertangkap hanya kurir atau pelaku kecil,” ujarnya. Mengingat jumlah barang bukti yang hampir mencapai 60 kilogram, sangat tidak mungkin jika operasi ini hanya dijalankan oleh satu individu tanpa dukungan logistik dan pendanaan dari sindikat besar lintas negara.

PISIDA Sintang: Prestasi Langka dalam Tujuh Tahun Terakhir

​Senada dengan YLBH GAN-LMRRI, Sekretaris Umum LSM PISIDA Sintang, Syamsuardi, menyebut capaian Sat Resnarkoba Polres Sintang sebagai prestasi luar biasa. Dalam kurun waktu hampir satu dekade terakhir, pengungkapan sabu dalam jumlah puluhan kilogram sangat jarang terjadi di wilayah hukum Sintang.

​“Ini merupakan pengungkapan besar. Kami dari LSM PISIDA memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Polres Sintang dan Sat Resnarkoba atas dedikasi mereka. Wilayah kita adalah benteng pertahanan terakhir sebelum barang-barang ini masuk ke kota-kota besar di Indonesia,” kata Syamsuardi. Keberhasilan ini diharapkan menjadi standar baru bagi kepolisian di wilayah perbatasan lainnya untuk meningkatkan pengawasan di jalur-jalur tikus.

Profil Tersangka dan Kerawanan Jalur Perbatasan Badau

​Dalam operasi penangkapan ini, polisi telah mengamankan seorang pemuda berinisial WS alias T (20) yang tercatat sebagai warga Kecamatan Badau, Kabupaten Kapuas Hulu. Identitas tersangka yang berasal dari wilayah perbatasan memicu kekhawatiran lama mengenai kerawanan jalur distribusi barang ilegal dari luar negeri.

​Kecamatan Badau dikenal memiliki akses langsung yang berbatasan dengan negara tetangga. Lokasi geografis ini sering kali dimanfaatkan oleh sindikat internasional sebagai jalur masuk narkotika karena minimnya pengawasan di hutan-hutan perbatasan. Penangkapan WS diharapkan bisa menjadi titik terang bagi kepolisian untuk memetakan jalur-jalur penyelundupan baru yang digunakan oleh para pengedar narkoba kelas kakap.

Seruan Kewaspadaan Kolektif Masyarakat

​Selain tindakan represif dari aparat, Syamsuardi mengingatkan pentingnya peran aktif masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang bersih dari narkoba (Bersinar). Narkoba merenggut semangat, cita-cita, dan harapan. Tanpa adanya benteng yang kuat dari keluarga dan lingkungan sosial, upaya polisi dalam menyita berton-ton narkoba akan sia-sia jika permintaan pasar tetap tinggi.

​“Diperlukan komitmen bersama seluruh elemen masyarakat. Laporkan jika ada aktivitas mencurigakan di lingkungan sekitar. Jangan beri ruang sedikit pun bagi pengedar untuk merusak anak cucu kita,” pungkas Syamsuardi. Sinergi antara aktivis, masyarakat, dan kepolisian adalah satu-satunya cara untuk memutus rantai peredaran narkoba yang kian menggila di Kalimantan Barat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!