Depok Kota Toleransi, Rumah Kita Bersama Umat Beragama

DEPOK

Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Kota Depok menggelar Halal bihalal dan Diskusi Lintas Agama berlangsung di aula HKI Juanda, Jln Tole Iskandar, Sabtu (4/4/2026).

Halal Bihalal di Depok jadi ajang silaturahmi lintas agama, mengusung tema “Toleransi dalam Keberagaman Umat”.

Wakil Walikota Depok, Chandra Rahmansyah, tekankan pentingnya kolaborasi pemerintah dan tokoh agama untuk wujudkan kota toleran.

Depok Rumah Bersama Untuk Keragaman lintas umat beragama, di harapkan kota yang sangat toleran sesuai dengan sila ke 5 Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, perlakuan adil dalam bidang hukum, ekonomi, pendidikan, dan sosial tanpa membedakan suku/agama.

Peran lembaga agama dalam membantu masyarakat, di tahun 2025 ada 60.000 orang miskin di kota Depok dari jumlah penduduk. rata rata mereka berusia 15 tahun ke atas, angka ini menunjukkan masih ada PR (pekerjaan rumah kita untuk menuntaskan kemiskinan dan perlunya kolaborasi antara pemerintah dan tokoh agama untuk mewujudkan cita-cita Indonesia, jauhi kemiskinan.

Untuk mengatasi hal seperti itu, kita perlu pendataan dari setiap rumah ibadah, berapa jumlah jemaatnya yang kurang mampu, termasuk yang lansia untuk di bantu pemerintah tidak hanya melalui BPJS saja, tetapi Dinas Sosial juga bisa, lanjut Chandra.

“Apa gunanya banyak rumah ibadah jika orang miskin terus bertambah dan agaimana lembaga agama bantu pemerintah kota untuk mengurangi kesenjangan sosial ditengah kehidupan masyarakat kota Depok yang beragam suku, budaya dan agama ini”.

Untuk itu Chandra berharap Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) dengan acara forum diskusi seperti lintas agama, terutama untuk anak muda ini selalu diselenggarakan, pintanya.

Kyai A. Kholadi, LC, sebut Depok sebagai kota yang sangat toleran dan beragam, dengan sejarah keberagaman yang sudah ada sejak zaman Cornelius Castelin. Depok penuh tantangan, tapi juga kaya akan budaya dan etnis.

Darius, ketua ISKA, berharap Depok harus punya payung hukum atau Perda untuk melindungi umat beragama dan jaga kerukunan. Contoh di daerah NTB, meski mayoritas Kristen, Gubernurnya tetap merangkul pemeluk agama Islam. Kota Depok harus konsisten menjaga Pancasila dan konstitusi.

Mangaranap Sinaga, ketua Piki Kota Depok, tekankan pentingnya menjaga keberagaman umat beragama di Depok. “Kota Depok sudah membangun ketahanan sosial lebih dari 10 tahun, tapi masih ada tantangan, seperti kurangnya rumah ibadah di beberapa daerah”.

Dia sebut perlu kolaborasi dan pemahaman yang lebih luas untuk wujudkan toleransi dan keberagaman di Depok.

Oleh sebab itu, Peraturan Bersama Menteri tentang rumah ibadah perlu diingat dan dijalankan.

Komentar tentang undangan acara yang tidak sampai ke beberapa pihak, termasuk Bu Camat Sukmajaya. Pihaknya merasa repot jika harus mengurus semuanya sendiri. Mereka berharap bisa lebih terbuka dan kolaboratif dalam kegiatan keagamaan dan sosial, karena kegiatan ini adalah di tingkat kota.

Acara Habil dan diskusi lintas agama tingkat kota Depok dihadiri oleh Chandra Rahmansyah Wakil Walikota Depok, KH .A Kholid,LC
Intelektual Muslim,
Mangaranap Sinaga ,SE MH (persatuan intelegensia Indonesia PIKI),
Pdt Romy S Pqlit M.Tt (ketua umum PGIS kota Depok),
Darius Lekalawo (ketua Iska kota Depok), Pdt, Dr Maxie M, Rumagit (ketua yayasan STT skriptura), Moderator Anthoni Siregar M,th turut hadir dari Anshor dan tokoh agama kota Depok dan jemaat HKI Juanda. (Yuni)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!